Definisi Terapi Okupasi: Selalu Menarik untuk Dibahas

Terapis Okupasi adalah profesi yang unik!

Mendefinisikan profesi ini, tidak semudah mendefinisikan profesi kesehatan lainnya, yang bisa kita maknai dari sebutannya. Saking uniknya, bahkan banyak negara memiliki sebutan definisi masing-masing. (Lihat: gambar ilustrasi)

Menurut Kementerian Kesehatan R.I tahun 2014 yang tertuang didalam Standar Layanan Terapi Okupasi, Terapi Okupasi adalah bentuk pelayanan kesehatan kepada klien dengan kelainan/kecacatan fisik dan/atau mental yang mempunyai gangguan pada kinerja okupasional, dengan menggunakan aktivitas bermakna (okupasi) untuk mengoptimalkan kemandirian individu pada area aktivitas kehidupan sehari-hari, produktivitas dan pemanfaatan waktu luang.

Kata kuncinya adalah pada istilah “occupational”, atau kemudian dialihbahasakan menjadi okupasi. yang menurut beberapa sumber, berarti “berhubungan dengan pekerjaan”. Makna okupasi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia memang belum mewakili kata okupasi yang disepakati oleh para pioneer Terapis Okupasi di Indonesia.

Menurut Japanese Association of Occupational Therapists (2018), Okupasi merupakan aktivitas yang dibutuhkan seseorang, diinginkan, atau diharapkan, dan memiliki tujuan dan makna untuk  masing-masing individu, meliputi aktivitas sehari-hari seperti aktivitas rutin, kegiatan rumahtangga, bekerja, hobi, bermain, interaksi antarpersonal, dan istirahat; dan adanya komponen fisik dan mental dalam aktivitas tersebut.

Sedangkan Terapi Okupasi adalah terapi yang berfokus pada okupasi, berfokus pada okupasi, bimbingan dan dukungan disediakan di berbagai bidang seperti perawatan medis, kesehatan masyarakat, kesejahteraan, pendidikan dan pekerjaan, dengan tujuan mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan manusia.

Terapi Okupasi berpijak pada prinsip dasar dan bukti akademik bahwa kesehatan dan kesejahteraan bisa diperoleh melalui okupasi. Sehat saja tidak cukup ya, harus bahagia sejahtera, istilah kerennya health and wellbeing menurut WHO.

Nah, Canadian Association of Occupational Therapists (2019), menyediakan definisi yang mudah dipahami, bahwa, Terapi Okupasi merupakan layanan kesehatan yang membantu masalah yang menghalangi kemampuan seseorang untuk melakukan hal yang penting, berhubungan dengan keseharian, seperti:

Perawatan diri– berpakaian, makan, bergerak disekitar rumah

Melakukan hal produktif – kesekolah atau bekerja, berpartisipasi dalam masyarakat

Pemanfaatan waktu luang– olahraga, berkebun, aktivitas sosial.

Okupasi terapi juga dapat mengantisipasi masalah tersebut datang, atau meminimalkan efeknya.

Pada praktiknya terapis okupasi dapat bekerja di berbagai setting baik dalam kesehatan maupun kemasyarakatan: dalam keluarga, rumah sakit, rumah sakit khusus, rumah sakit jiwa, klinik tumbuh tembang, klinik neurologi, klinik pelayanan lansia, pusat rehabilitasi, komunitas difabel, industri, lembaga pemasyarakatan, dll.

Terapis okupasi dapat memberi intervensi secara luas pada berbagai kasus, seperti pediatri, neurologi, geriatric; kasus fisik seperti penyakit dalam dan bedah, rehabilitasi tangan; gangguan kesehatan mental seperti skizofrenia, drug abuse; dan masih banyak lagi. Terapis okupasi juga berperan dalam program-program promotif, seperti pemberdayaan masyarakat, pengelolaan safety dan ergonomi.

Di Indonesia, untuk menjadi seorang terapis okupasi, seseorang diharuskan menempuh pendidikan minimal Diploma III sebagai entri level profesi kesehatan di Indonesia, dan telah teregistrasi resmi di Kementerian Kesehatan R.I yang dibuktikan dengan kepemilikan Surat Tanda Registrasi (STR). Salah satu instansi pendidikan yang mendidik calon Terapis Okupasi di Indonesia adalah Jurusan Terapi Okupasi Poltekkes Surakarta, yang merupakan perguruan tinggi negeri dibawah naungan Kementerian Kesehatan RI. Hal –hal detail mengenai profesi Terapis Okupasi dapat diperoleh dari Ikatan Okupasi Terapis Indonesia.

Terapis Okupasi secara global termasuk dalam 10 profesi terbaik di dunia. Hal ini tentunya menjadi kebanggaan bagi para terapis okupasi. Definisinya saja menarik, apalagi praktiknya.

Salam!

Erayanti Saloko

Terapis Okupasi

Mempersiapkan Kemampuan Menulis Anak Selama Dirumah

Ketika anak memasuki dunia sekolah, anak dituntut untuk dapat melakukan aktivitas menulis sebagaimana menulis sangat mempengaruhi performa akademik anak di sekolah. Tidak sedikit anak yang mengalami kesulitan dalam aktivitas menulis yang mengakibatkan anak mengalami hambatan belajar.

Menulis merupakan proses yang kompleks dalam melakukannya seseorang harus mengelola bahasa tertulis dengan mengkoordinasikan mata, lengan, tangan, pegangan pensil, pembentukan huruf, dan postur tubuh (AOTA, 2021).

Situasi pandemi menuntut anak untuk belajar dengan orang tua dirumah. Tak sedikit orang tua yang kebingungan dalam melatih anak yang mengalami hambatan dalam menulis.

Ketika dihadapi dengan anak dengan kesulitan menulis terapis okupasi dapat mengevaluasi komponen yang mendasari & mendukung tulisan tangan anak, seperti kekuatan otot, daya tahan, koordinasi & kontrol motorik. Selanjutnya, orang tua dapat mendorong kegiatan di rumah untuk mendukung keterampilan tulisan tangan yang baik (AOTA, 2021).

Berikut aktivitas- aktivitas untuk mengembangkan kemampuan menulis anak yang orangtua dapat lakukan dirumah.

Meningkatkan Kekuatan Otot dan Daya Tahan

Ketika anak belajar menulis terdapat beberapa kekuatan otot yang penting dan sangat diperlukan yaitu kekuatan otot postur atau batang tubuh, leher hingga kepala, bahu hingga jari-jari. Selain itu, daya tahan otot yang baik pada anak ketika melakukan aktivitas juga sangat penting.

Ketika anak memiliki kekuatan otot yang lemah dan daya tahan yang rendah maka anak tidak dapat menulis dengan performa yang maksimal. Aktivitas yang dapat dilakukan dirumah untuk mengembangkan bagian tersebut, sebagai berikut :

Merangkak

Stick Ladder untuk melatih kekuatan otot postur dan ketangkasan alat gerak (Img. pinterest.com)

Melakukan animal exercise 

Bergerak menyerupai hewan (Img. pinterest.com)

Melalukan yoga maupun olahraga lain

Terutama olahraga yang anak minati seperti badminton, lempar tangkap bola, basket dan lain-lain.

Yoga dengan gaya hewan-hewan untuk melatih fleksibilitas tubuh (Img. pinterest.com)

Koordinasi Mata dan Tangan

Koordinasi adalah kemampuan sistem penglihatan untuk mengkoordinasikan informasi yang diterima melalui mata untuk mengontrol, membimbing, dan mengarahkan tangan dalam pencapaian tugas yang diberikan, seperti tulisan tangan atau menangkap bola.

Penggunakan mata dalam koordinasi mata-tangan berguna untuk mengarahkan perhatian dan tangan untuk melaksanakan tugas (Children’s health , 2021).

Hal ini semakin menjelaskan betapa pentingnya kemampuan koordinasi mata tangan bagi anak salah satunya untuk aktivitas menulis dimana anak harus memegang kertas dan pensil kemudian menuliskan huruf diatasnya.

Berikut aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan dirumah untuk meningkatkan koordinasi mata tangan: 

Melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari, seperti memasak dan berkebun.

Saat memasak anak akan belajar bagaimana memotong sayuran, menggulung-gulung adonan, mengukur panjang adonan, menyekop tanah untuk menanam bunga dan menyiram tanaman. Aktivitas-aktivitas tersebut sangat sesuai untuk mengembangkan kemampuan koordinasi mata tangan anak.

Bermain memukul bola
(Img. pinterest.com)
Ikut dalam kegiatan dapur (Img. pixabay.com)

Membantu kegiatan berkebun di rumah (Img. pixabay.com)

Ajak anak bermain aktivitas finger games
seperti finger painting, menulis di atas pasir, capit-capit popcorn dan lain-lain.
Finger Painting (Img. pixabay.com)
Bermain Sensory Bin (Img. pixabay.com)

Koordinasi Motorik Halus (Grasp dan Manipulasi jari-jari)

Saat anak mulai menggunakan pensil untuk menulis maka anak harus memiliki pola genggaman serta manipulasi jari-jari yang baik. Seiring bertambahnya usia anak-anak, keterampilan motorik halus mereka juga berkembang lebih lanjut untuk memungkinkan manipulasi objek yang lebih tepat.

Keterampilan motorik halus penting untuk pengembangan tulisan tangan. Ditemukan bahwa kesalahan menulis yang biasa dibuat oleh siswa kelas satu sebagian besar disebabkan oleh kesulitan dalam kontrol motorik halus (Feder &Majnemer 2007).

Berikut aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan dirumah yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan koordinasi motoriK halus anak :

Aktivitas Menghias Kue 

Saat anak melakukan aktivitas menghias kue, secara langsung anak sudah dilatih dalam meningkatkan kemampuan menggenggam saat anak menggulung adonan, menghias dengan krim dalam wadah dan juga manipulasi jari-jari saat menghias dengan coklat atau permen di atas kue atau cookies.

Ikut membuat cookies di rumah (Img. pixabay.com)
Berkreasi dengan cookies yang beranekaragam (Img. pixabay.com)
Bermain Mainan Tradisional, seperti Kelereng dan Congklak 

Saat bermain kelereng, maupun congklak anak akan terstimulasi dalam meningkatkan kemampuan manipulasi jari- jarinya. Selain manipulasi jari- jari secara tidak langsung permainan ini dapat mengasak konsentrasi dan kemampuan berpikir anak.

Bermain kelereng di rumah (Img. pixabay.com)
Congklak (Img. pixabay.com)

Kesimpulan 

Kemampuan menulis merupakan kemampuan yang didapati dari latihan -latihan, sehingga anak sangat perlu difasilitasi dan dipersiapkan untuk dapat memiliki kemampuan menulis yang baik. Menulis merupakan aktivitas yang melibatkan banyak kemampuan seperti kekuatan otot dan ketahanan, koordinasi mata tangan dan motorik halus.

Pasca masa pandemi, banyak sekali anak yang masih cenderung menghabiskan waktunya dengan gadget atau screen time, sehingga anak mengalami kesulitan ketika dihadapkan dengan aktivitas menulis tangan. Hal tersebut dapat disiasati dengan memberikan aktivitas- aktivitas yang dapat dilakukan orangtua bersama anak dirumah.

Referensi

AOTA (2021). Handwriting. https://www.aota.org/About-Occupational-Therapy/Patients-Clients/ChildrenAndYouth/Schools/Handwriting.aspx

Hans-eye Coordination, diakses dari : http://www.healthofchildren.com/G-H/Hand-Eye-Coordination.html (23 Desember 2021)

Feder, K.P. & Majnemer, A. 2007. Handwriting development, competency, and intervention. Developmental Medicine & Child Neurology 49(4): 312-317.

Department of Occupational Therapy, Royal Children’s Hospital (2005). Occupational therapy : pre-writing activitiy idea. Melbourne. https://www.rch.org.au/uploadedFiles/Main/Content/ot/InfoSheet_H.pdf

Pentingnya Membangun Hubungan Terapetik Dengan Klien

Memulai Hubungan dari Hal Sederhana

Hubungan terapeutik berlanjut kepada kerja sama (Img. southpasadenan.com)

Sering kali kita mendengar klien berkata “Melihat terapis nya ramah senyum saja sudah mengurangi separuh nyeri saya”, atau kata seperti “Saya selalu semangat datang terapi, karena mbak dan mas terapis nya memotivasi saya dengan baik”. 

Ternyata belum melakukan tindakan intervensi yang jauh saja sudah membuat klien kita merasa sedikit lebih baik. Menjadi tenaga kesehatan memang menguras tenaga baik fisik maupun emosional.

Namun, menjadi klien yang mengalami disfungsi menguras tenaga fisik dan emosional untuk datang mengakses layanan kesehatan pula. Maka kita terapis harus bisa menjadi professional dan melayani sepenuh hati. 

Pada tahun 1913, Sigmund Freud berhipotesis bahwa hubungan antara terapis dan pasien adalah komponen kunci dari pengobatan yang sukses. Sejak saat itu, penelitian telah menunjukkan bahwa kualitas hubungan ini (‘aliansi terapeutik’ seperti yang disebut) merupakan prediktor terkuat keberhasilan terapi (Knobloch, 2008). 

Lalu bagaimana cara membangun hubungan yang baik antara terapis dan klien secara profesional? Sebelum sampai kesana, mari kita belajar manfaat dari menjalin hubungan yang baik dengan klien.

Manfaat memiliki Hubungan yang Baik dengan Klien

Dapat memunculkan kolaborasi yang baik antara klien dan terapis

Kolaborasi yang baik dapat membuat kita berada pada satu jalan dengan klien. Tanpa kolaborasi yang baik, seperti klien yang hanya menggantungkan pada terapis tanpa melakukan home program yang diberikan, terapis yang tidak memberikan umpan balik saat klien berkeluh kesah maka proses terapi yang dijalankan pun akan terasa sulit.

Dalam setting pediatri, kolaborasi pertama terjadi antara terapis, orang tua dan anak. Tetapi, kolaborasi paling awal yang harus dibangun dalam setting pediatri adalah antara terapis dan orang tua. Kolaborasi antara terapis dan orangtua yang kuat dapat meningkatkan rasa pemahaman, harapan dan rasa syukur terhadap anak.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan baiknya hubungan kolaborasi tersebut berimplikasi sangat kuat dan meningkatkan efektivitas proses terapi yang dijalankan, sehingga outcome yang dihasilkan dalam terapi pun lebih baik (Feinstein, Udvari-Solner & Joshi, 2009).

Menjalin komunikasi dengan klien (Img. www.gebauer.com)

Meningkatkan kualitas komunikasi yang dijalin

Saat kita memiliki hubungan baik dengan klien, maka akan mudah sekali dalam menjalin komunikasi. Melalui komunikasi yang terjalin dengan baik, terciptalah hubungan emosi yang kuat. Sehingga klien lebih leluasa menyampaikan keluhan dan harapannya.

Penelitian menunjukan hubungan yang baik dapat membuat klien lebih terbuka dan jujur dalam menyampaikan respon emosi negative yang dialami dan juga dapat menyelesaikan permasalahan negative yang dialami lebih baik (Knobloch, 2008).

Dapat menuntun ke hasil terapi yang lebih baik

Berdasarkan meta analysis pada aspek hubungan terapi tentang hubungan berbasis bukti & responsif, ditemukan bahwa sejumlah faktor hubungan, seperti menyetujui tujuan terapi, mendapatkan umpan balik klien selama perawatan dan memperbaiki masalah klien secara bersama memberikan hasil yang positif karena membantu dalam penggunaan metode perawatan yang tepat kepada klien (Deangelis, 2019).


Bagaimana Membangun Hubungan Terapetik dengan Klien?

Saat berbicara tentang hubungan terapetik Secara historis, studi tentang hubungan terapeutik hanya berfokus pada hubungan pasien dengan terapis. Namun, penelitian yang dilakukan di The Family Institute di Northwestern University dan Dr. William Pinsof (2019) menunjukkan pentingnya memperluas definisi ini untuk memasukkan pengaruh orang lain yang signifikan dalam kehidupan pasien seperti anggota keluarga, pasangan, teman dekat.

Penelitian yang dilakukan Knobloch (2008) tentang Pentingnya Hubungan dengan Terapis memaparkan bahwa cara menciptakan hubungan yang baik  antara terapis dan klien adalah membangun empati dan pemahaman, menciptakan rasa keterbukaan, memiliki fleksibilitas dan kemauan beradaptasi dengan klien. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membangun hubungan terapetik bersama klien : 

Berempati terhadap kondisi klien (Img. nursesusa.org)

Bangun rasa empati dan memahami klien

Saat awal terapis bertemu klien, hal yang harus kita bangun adalah rasa empati dan memahami keadaan dan perasaan klin kita, bukan apa masalah klien dan apa tujuan terapi yang bisa diberikan. Saat awal-awal pertemuan, ibaratkan kita (terapis) adalah seseorang yang bertamu di suatu rumah baru.

Sangat tidak etik bukan jika kita langsung mengunjungi dapur tanpa mengenal ruang depan? Begitu pula dengan klien, klien akan merasa tidak nyaman jika kita langsung terjun ke dalam tanpa berkenalan dan membangun rasa saling memahami. 

Berdasarkan pengalaman saya, saya selalu berusaha membangun empati dan memahami klien saat awal-awal klien menjalankan terapi, seperti memahami apa yang klien suka dan tidak suka, apa yang membuat klien bersemangat, apa yang membuat klien tidak nyaman & tidak memaksakan klien untuk melakukan aktivitas yang kita minta dan berikan.

Oleh sebab itu, klien akan menunjukan kepercayaan terhadap kita karena merasa aman dan nyaman dengan kita sebagai terapis sehingga proses terapi yang dijalankan pun menjadi lebih baik.

Ciptakan Keterbukaan 

Keterbukaan sangat penting saat membangun hubungan terapetik dengan klien. Saat dengan klien dewasa, terapis diharapkan dapat terbuka dengan tujuan & proses terapi yang akan dijalankan. Sehingga klien tidak merasa seperti sebuah objek yang di otak-atik oleh terapis, namun bisa merasa menjadi seorang “partner” yang bersama-sama menuju tujuan yang sama. 

Dalam setting pediatri, keterbukaan sangat perlu terjalin dengan orang tua dan juga anak. Menciptakan keterbukaan dapat dilakukan seperti menyampaikan pada orang tua bagaimana permasalahan anak, dan bagaimana cara yang dapat dilakukan bersama agar mendapatkan hasil yang memuaskan.

Maka sangat penting mengkomunikasikan hasil terapi di setiap setelah pertemuan, seperti apa yang telah dapat dicapai anak hari ini dan bagaimana cara memaksimalkan potensi anak dirumah melalui home program.

Fleksibilitas dan kemauan untuk beradaptasi dengan klien

Kondisi klien tidak dapat kita prediksi di setiap pertemuan. Pada beberapa kasus pediatri, emosi anak masih turun-naik seperti saat dirumah anak merasa baik-baik saja namun saat tiba di ruangan terapi anak merasa cemas. Begitu pula klien dewasa fisik maupun psikososial, pertemuan sebelumnya klien merasa bersemangat dan termotivasi, bisa jadi pertemuan kali ini klien merasa murung dan tidak bersemangat.

Fleksibilitas

Maka disinilah peran terapis, agar terciptanya hubungan yang baik dan klien dapat lebih mudah mengkomunikasikan perasaan negatif nya, terapis diharapkan menjadi pribadi yang fleksibel dan dapat beradaptasi. 

Salah satu bentuk dari fleksibilitas adalah dengan cara tidak memaksakan program terapi yang sudah kita susun di hari itu terhadap klien saat klien tidak dalam kondisi baik. Meskipun klien harus mencapai tujuan yang telah disepakati, namun perasaan dan apa yang dialami klien di hari itu adalah lebih penting.

Kemauan Beradaptasi

Kemauan beradaptasi dengan klien dapat dilakukan dengan cara mengubah aktivitas yang sesuai dengan keadaan klien dihari itu juga, contoh nya klien anak yang minggu lalu sudah berfokus dalam meningkatkan kognitif karena hari ini anak mengalami cemas berlebih maka kita harus dapat mengubah aktivitas kearah calming bagi anak.

Hal tersebut dapat membuat klien merasa bahwa kita dapat beradaptasi dengan merasa dalam situasi apapun yang sedang mereka alami dan tidak menjadi pribadi yang kaku serta memaksakan.

Menyesuaikan diri dalam proses komunikasi bersama klien (Img. amavic.com.au)

Kesimpulan

Banyak klien yang saat sebelum mengakses terapi mereka berpikir “apakah mengikuti terapi ini akan benar-benar berguna bagi diriku?”. Penelitian menunjukkan bahwa banyak faktor mempengaruhi apakah sebuah pengobatan akan berhasil, seperti tingkat keparahan masalah yang sedang diobati, keyakinan pasien bahwa treatment akan bekerja dan tingkat keterampilan terapis.

Namun, penelitian selama lima puluh tahun terakhir telah menunjukkan bahwa satu faktor, lebih dari yang lain, dikaitkan dengan pengobatan yang sukses yaitu kualitas hubungan antara terapis dan pasien. Maka, inilah betapa pentingnya menciptakan hubungan terapetik dengan klien agar outcome yang dihasilkan akan menjadi lebih baik.

Referensi 

Knobloch-Fedders, L. (2008). The importance of the relationship with the therapist. Clinical Science Insights1, 1-4. https://www.family-institute.org/behavioral-health-resources/importance-relationship-therapist

Pinsof, W. M. (2019). Family Institute at Northwestern University. Encyclopedia of Couple and Family Therapy, 1061-1068.

Deangelis, T. O. R. I. (2019). Continuing Education: Better relationships with patients lead to better outcomes. Monitor on Psychology50(10). https://www.apa.org/monitor/2019/11/ce-corner-relationships

Feinstein, N. R., Fielding, K., Udvari-Solner, A., & Joshi, S. V. (2009). The supporting alliance in child and adolescent treatment: Enhancing collaboration among therapists, parents, and teachers. American Journal of Psychotherapy63(4), 319-344.

Pentingnya Work Life Balance bagi Terapis Okupasi

Fenomena work life balance di kalangan pekerja masa kini (Img. static.wixstatic.com)

Bekerja sebagai terapis okupasi tidaklah selalu mudah. Selalu dituntut untuk menjadi professional di semua situasi saat bekerja. Banyak yang setuju bahwa menjadi terapis okupasi bukan hanya mengandalkan ilmu medis, namun juga ilmu sosial dan kemanusiaan karena terapis okupasi harus dapat melihat klien secara holistic.

Selain menjadi tenaga professional di tempat kerja, terapis okupasi juga memiliki peran di kehidupannya masing-masing, entah sebagai ibu rumah tangga dan mengurus keluarga, kepala keluarga, mahasiswa, ketua organisasi dan lain sebagainya. 

Ketika seorang terapis okupasi mengalami kesulitan dalam mengatur perannya di dunia kerja dan di kehidupan seharinya atau work-life balance-nya, terapis okupasi dapat mengalami “occupational imbalance”.

Itu adalah situasi di mana terapis okupasi menjalani kehidupan yang tidak seimbang sebagai konsekuensi dari tekanan dari tempat kerja neoliberal untuk ‘melakukan’ dan ‘menjadi’ kegiatan di luar pekerjaannya yaitu perannya di kehidupan sehari-hari . Occupational imbalance sendiri dapat mempengaruhi pencapaian kesejahteraan seseorang. (Clouston, 2014).

Apa itu Work-Life Balance?

Semakin majunya teknologi, dunia terasa semakin mudah. Sehingga pekerjaan apapun bisa dikerjakan dimanapun dan kapanpun. Hal itulah yang membuat seseorang sulit mengorganisir waktunya kapan bekerja dan kapan melakukan perannya yang lain di luar pekerjaan nya. Beberapa ahli mengartikan work sebagai sesuatu pekerjaan yang dibayar seperti pekerjaan tetap dan permanen, sedangkan life diartikan sebagai pekerjaan kita yang tidak dibayar. 

Tetapi, beberapa ahli juga mengartikan life sebagai kehidupan di keluarga maupun sosial kita, dan balance menyiratkan sebuah tujuan dimana terdapat keseimbangan antara partisipasi seseorang terhadap pekerjaan dan kehidupan selain pekerjaan dan setiap individu memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengorganisasi dirinya dalam berbagai peran pun sebenarnya tidak semua hal harus memasukan keseimbangan didalamnya (Lewis & Beauregard, 2018). 

Hayo, udah ada rencana liburan di minggu depan? (Img. piknikdong.com)

Apa Dampak Bermasalah pada Work-Life Balance?

Menyeimbangkan sesuatu hal yang berbeda memang tidak selalu mudah. Penulis pun merasa kesulitan menyeimbangkan kehidupan kerja dan dunia pribadi.

Sering sekali melewatkan hari minggu untuk bersantai dengan keluarga atau teman-teman terdekat seperti jalan-jalan, karena terlalu berfokus pada pekerjaan, bisa dibilang work a holic. Hal itu menyebabkan diri saya menjadi mudah stress dan selalu lesu saat hari senin serta menurunnya performa bekerja. 

Sebuah survei tentang keseimbangan kerja / kehidupan yang dilakukan pada tahun 2002 oleh TrueCareers menyatakan bahwa 70% dari lebih dari 1.500 responden mengatakan mereka tidak memiliki keseimbangan yang sehat antara kehidupan pribadi dan pekerjaan mereka. Ketidak seimbangan antara work dan life dapat menyebabkan menurunnya kesehatan dan meningkatkan stress bagi seseorang (Dhas & Karthikeyan, 2015). 

Stres dalam Pekerjaan (Img. topcareer.id)

Para ilmuwan setuju bahwa dalam jumlah yang sedang, stres bisa dihadapi bahkan bermanfaat dan kebanyakan orang diharuskan untuk menghadapinya. Namun, meningkatnya tingkat stres yang cepat menyebabkan moral karyawan menjadi rendah, produktivitas menjadi buruk, dan penurunan kepuasan kerja.

Beberapa gejala spesifik yang berhubungan langsung dengan produktivitas di lingkungan kerja adalah penyalahgunaan waktu, kecurangan, ketidakhadiran ke tempat kerja secara berkepanjangan, ketidakpercayaan, penggelapan, sabotase organisasi, keterlambatan, penghindaran tugas, dan kekerasan di tempat kerja. 

Dampak serius lainnya adalah depresi, penyalahgunaan alkohol dan narkoba, masalah perkawinan dan keuangan, gangguan makan kompulsif, dan kelelahan karyawan (Lockwood, 2003). Selain itu ketidakseimbangan antara work & life menyebabkan masalah keluarga, seperti menurunnya kepuasan berkeluarga dan menurunnya seseorang melakukan perannya dalam keluarga (Delecta, 2011).

Bagaimana Cara Menyeimbangkan Work-Life Balance?

Menengok Budaya Tempat Anda Bekerja

Beberapa kasus, ketidak seimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi disebabkan oleh pola atau budaya tempat seseorang bekerja. Jadi sangat perlu melihat kembali apakah tempat anda bekerja mendukung program work life balance.

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, seorang terapis okupasi sangat didukung agar memiliki keseimbangan antara bekerja dan kehidupan pribadinya. Berikut beberapa saran agar tempat kerja memilki program work life balance (Lockwood, 2003) : 

  • Meninjau strategi sumber daya manusia untuk melihat apakah mendukung misi perusahaan,
  • Melalui kuesioner atau kelompok fokus, cari tahu apa yang dirasakan karyawan tentang keseimbangan kerja / kehidupan,
  • Menyelaraskan inisiatif kerja / kehidupan dengan strategi SDM (misalnya, pilihan atasan dengan bawahan),
  • Buat program penghargaan bagi pegawai yang menerapkan work life balance menggunakan insentif non-tunai yang selaras dengan tujuan bisnis.
Membangun budaya lingkungan kerja yang nyaman (Img. careerarc.com)

Memanajemen Waktu dengan Baik

Ketidakseimbangan antara bekerja dan kehidupan pribadi memang selalui berkaitan dengan waktu yang digunakan. Bagi work holic, bekerja adalah hal utama dalam hidupnya, minum kopi bersama teman bagi mereka sangat membuang waktu berharga.

Memanajemen waktu sangat diperlukan ketika kita memiliki banyak peran dalam kehidupan kita. Study yang dilakukan oleh Work institute of America (2011) tentang “Holding a job, having a life : Strategies for change” menunjukkan bahwa strategi ini dapat membantu mengurangi lembur, stres, dan beban kerja, dan meningkatkan fleksibilitas dan waktu bersantai dengan keluarga (Dhas & Karthikeyan, 2015).

Beberapa orang juga menggunakan asisten untuk melakukan beberapa pekerjaan pribadi yang tidak bisa dilakukan, untuk time saved sehingga mereka dapat memiliki waktu lebih agar dapat bersama keluarga (Lockwood, 2003).


Kesimpulan 

Semakin majunya zaman, semua serba mudah. Hal tersebut mengakibatkan orang bekerja tanpa mengenal waktu. Bagi seorang terapis okupasi menyeimbangkan antara bekerja dan kehidupan pribadi sangat penting. Ketidak seimbangan antara bekerja dan kehidupan dapat menyebabkan stress dan masalah keluarga hingga kesehatan.

Maka dari itu terapis okupasi harus dapat menjaga well-being diri sendiri agar dapat memiliki performa bekerja yang baik saat bersama klien. Ketidak seimbangan antara work dan life yang tidak diatasi akan memiliki dampak kurang baik bagi seseorang di kehidupannya, sehingga sangat disarankan agar melakukan perbaikan sejak sekarang.

Referensi

Clouston, T. J. (2014). Whose occupational balance is it anyway? The challenge of neoliberal capitalism and work–life imbalance. British Journal of Occupational Therapy77(10), 507-515. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.4276/030802214×14122630932430

Lewis, S., & Beauregard, T. A. (2018). The meanings of work-life balance: A cultural perspective. In R. Johnson, W. Shen, & K. M. Shockley (Eds.), The Cambridge handbook of the global work-family interface (pp. 720-732). Cambridge: Cambridge University Press.

Lockwood, N. R. (2003). Work/life balance. Challenges and Solutions, SHRM Research, USA, 2-10.

Delecta, P. (2011). Work life balance. International Journal of Current Research3(4), 186-189.

Dhas, M. D. B., & Karthikeyan, D. P. (2015). Work-life balance challenges and solutions: overview. International Journal of Research in Humanities and Social Studies12(2).

Sport Rehabilitation : Bagaimana Terapis Okupasi Dapat Berperan?

Banyak sekali jenis jenis olahraga di sekitar kita (Img: Freepik.com)

Olahraga & Atlet

Bermula dari Juni hingga Desember 2022 ke depan, dunia sedang berpesta olahraga, loh! Bila kita urutkan dari SEA Games 2022 di Hanoi, ASEAN Para Games 2022 di Indonesia, FIBA Basketball Asia Cup 2022 di Indonesia, Asian Games 2022 di Tiongkok dan terakhir di FIFA World Cup 2022 di Qatar (Kompas, 2022). Diantara pesta-pesta olahraga tersebut, beberapa kegiatan berlangsung di Indonesia, wah!

Tidak lupa, selamat untuk Indonesia sudah menjadi juara umum di ASEAN Para Games 2022 & memenangkan kompetisi sepak bola remaja tingkat Asia Tenggara, AFF U-16 2022, ya!

Pada era ini sport sangat populer dan kompetitif dengan banyak atlet yang berlatih sangat keras agar mendapatkan kemenangan, maka tak heran saat ini menjadi seorang atlet merasakan beban besar baik secara fisik dan emosional. Keterbebanan tersebut mengakibatkan para atlet memperbanyak latihannya dan dapat meningkatkan peluang resiko cedera akibat olahraga (Dhillon et al., 2017).

Ketika seorang atlet mengalami cedera fisik saat melakukan kompetisi ataupun aktivitas olahraga, maka hal itu dapat berimplikasi pada kemampuannya dalam melakukan aktivitas kesehariannya.

Sport Rehabilitation

Saat kita berbicara tentang rehabilitasi maka kita akan menemukan banyak profesi di dalamnya dikarenakan rehabilitasi selalu menggunakan pendekatan multidisiplin. Maka dari itu dalam memanajemen cidera akibat olahraga terdapat banyak spesialis yang terlibat didalamnya meliputi pelatih, manajer klub, conditioning specialist, fisioterapis, nutrisionis, exercise psychologist, terapis okupasi, dokter bedah, pekerja sosial dan tim rehabilitasi lainnya. (Comfort, 2010 & Heijnen, 2008).

Semua bentuk olahraga dapat mengakibatkan cidera tanpa terkecuali, entah itu olahraga sepak bola, berenang, gymnastic, angkat beban, hingga bulu tangkis.

Penyebab umum terjadinya cedera pada seorang atlet antara lain adalah overtraining, teknik yang buruk, kit/peralatan yang tidak pantas, tabrakan, jatuh, penggunaan kemampuan yang berlebihan (Cambridge Technicals, 2018). Maka adanya sport rehabilitation bertujuan untuk mengembalikan dan mengoptimalkan fungsi sang atlit yang terganggu akibat cedera secara maksimal.

Pelayanan terapi okupasi juga dapat di ranah rehabilitasi olahraga. (Vid. Youtube.com)

Bagaimana Terapis Okupasi Dapat Berperan?

Cedera yang dialami seorang atlet dapat menyebabkan gangguan secara fisik dan psikis. Cidera  fisik yang dialami dapat berupa cedera otot, ligamen dan tulang. Studi yang dilakukan oleh Hootman et al. (2007) terhadap atlet dari 15 jenis olahraga yang berbeda menunjukan lebih dari 50 % atlet mengalami cedera pada anggota tubuh bagian bawah dan peneliti mengobservasi lebih dari 16 tahun dan melihat adanya peningkatan kasus cedera pada atlet karena tuntutan secara fisik, partisipasi dan aturan pertandingan.

Berikutnya proses pemulihan atau proses rehabilitasi pasca cedera menjadi concern utama. Maka disinilah terapis okupasi turut serta menjadi bagian dari proses rehabilitasi seorang atlet. 

Assessment

Sebelum menentukan sebuah program untuk klien maka seorang terapis okupasi wajib melakukan sebuah assessment. Ketika berbicara tentang terapi okupasi maka kita akan berorientasi terhadap aktivitas fungsional apa yang terdampak akibat cedera yang dialami klien. Sebuah assessment pada sport rehabilitation sangat penting dan harus didokumentasikan dengan baik dari awal hingga evaluasi akhir karena berkaitan dengan tindakan pencegahan re-injury (Dhillon, et al., 2017).

Cedera yang berkaitan dengan olahraga yang sering ditemukan adalah gegar otak, cedera otak, cedera pada visual, cedera tulang belakang, dan cedera keterampilan motorik. Ini semua adalah cedera yang terapis okupasi biasanya kerjakan dalam proses rehabilitasi. Namun, literatur menunjukkan layanan terapi okupasi masih belum familiar dianggap sebagai komponen dari tim rehabilitasi olahraga (Reed, 2011). 

Pemeriksaan fungsi tangan dilakukan terapis okupasi (Img. res.cloudinary.com)

Maka dalam hal ini seorang terapis okupasi dapat menggunakan pemeriksaan lingkup gerak sendi dan kekuatan otot serta pemeriksaan tonus otot sebagai pemeriksaan secara fisik, dan dapat menggunakan depression and anxiety scale sebagai pemeriksaan psikis pasca injury.

Kemudian terapis okupasi dapat menggunakan Mini-Mental Status Examination (MMSE) maupun The Montreal Cognitive Assessment (MoCA) sebagai pemeriksaan kognitf klien secara umum pasca cedera serta menggunakan Functional Independence Measure (FIM), Performance Assessment of Self-Care Skills (PASS), maupun Canadian Occupational Performance Measure (COPM) untuk mengetaui permasalahan fungsional yang terdampak oleh cedera yang dialami klien (Manee, et al., 2020).

Intervensi 

Setiap tujuan dan tindakan intervensi yang akan dilakukan dengan klien diputuskan berdasarkan hasil dari assessment dan keputusan bersama yang bersifat client-centered. Sebuah  Studi menunjukkan bahwa partisipasi dalam aktivitas sangat penting untuk pemulihan setelah cedera, namun gejala mungkin masih mengganggu kemampuan seseorang untuk berpartisipasi. 

Melalui gejala-gejala yang dialami klien ini dapat dilihat di area mana terapi okupasi dapat berperan dalam menemukan cara untuk membantu individu dalam menjaga partisipasi sehari-hari dalam aktivitas (Host & Mankie, 2018).

Bermodalitaskan permainan & olahraga (Img. neuroskills.com)

Berikut tindakan-tindakan intervensi yang dapat terapis okupasi lakukan pada sport rehabilitation :

Cedera pada Ekstremitas Atas

Banyak atlet yang mengalami cedera ekstremitas atas. Ekstremitas atas termasuk cedera pada tangan, pergelangan tangan, siku, dan bahu. Cedera di daerah-daerah ini dapat menyebabkan penurunan lingkup jangkauan gerakan, motorik halus, motorik kasar, dan keterampilan koordinasi.

Ekstremitas atas memiliki peran sangat banyak dalam aktivitas keseharian. Ketika klien mengalami cedera pada salah satu ekstremitasnya (tangan atau kaki), hal tersebut dapat menyebabkan rasa sakit dalam waktu tertentu dan membutuhkan banyak waktu untuk memulihkan kondisi yang kemudian menurunkan partisipasi individu dalam okupasinya. (Host & Mankie, 2018).

Dalam tindakan-tindakan intervensi yang dapat dilakukan seorang terapis okupasi dapat mengacu pada AOTA (2014), yaitu dapat berupa :

  • Latihan peningkatan kekuatan otot dan lingkup gerak sendi, 
  • Latihan aktivitas terapeutik 
  • Mendesain orthosis, fabrication, fitting, dan training
  • Joint protection dan/atau menerapkan teknik konservasi energi di rumah, pekerjaan, sekolah, atau kegiatan rekreasi
  • Pengenalan ulang sensorik
  • Mirror therapy
  • Manajemen bekas luka dan edema
  • Manajemen nyeri
  • Pengkondisian kerja atau persiapan kembali bekerja
  • Pelatihan dalam kegiatan kehidupan sehari-hari dan perangkat adaptif atau bantu, Pendidikan untuk keselamatan pasca-bedah atau pasca-cedera, termasuk kehilangan sensorik.

Cedera pada Ekstremitas Bawah

Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, cedera ekstremitas bawah banyaknya mencapai lebih dari 50%. Ekstremitas bawah membawa peran penting dalam aktivitas fungsional terutama mobilitas bagi para atlet. Intervensi yang dilakukan pada ekstremitas bawah pun tidak jauh berbeda dari ekstremitas atas.

Terapis okupasi dapat memilih bentuk intervensi apa yang tepat bagi ekstremitas bawah pasca cedera olahraga. Dalam proses intervensi ekstremitas bawah terapis okupasi dapat berfokus pada komponen-komponen penting yaitu kekuatan otot, lingkup gerak sendi, keseimbangan dan endurance.

Komponen tersebut dapat dicapai salah satunya melalui protection, rest, ice, compression, dan elevation (P.R.I.C.E) dengan tujuan menghindari kerusakan jaringan lebih lanjut, mengurangi rasa sakit yang disebabkan oleh cidera, edema, dan sebagai upaya untuk membantu meningkatkan proses penyembuhan (Dhillon et al., 2017).


Psikologis

Menjadi seorang atlet merupakan sebuah tuntutan besar bagi seseorang apalagi jika sudah masuk pada kompetisi dunia. Mengalami cedera merupakan mimpi buruk bagi seorang atlet, apalagi jika cedera berat karirnya sebagai atlet dapat berakhir. Maka dari itu sebagai terapis okupasi kita tidak boleh menyampingkan area psikologis klien dalam proses rehabilitasi.

Gangguan psikologis yang sering dialami para atlet seperti anger (perasaan marah), kecemasan (karena memikirkan berapa lama cedera akan berlangsung), depresi (karena tidak dapat bertanding atau berlatih), mengisolasi diri, frustrasi hingga turunnya kepercayaan diri (Cambridge Technicals, 2018). 

Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terapis okupasi pada area kesehatan mental setelah cedera dapat berupa menyediakan program edukasi, pembelajaran pengalaman dan kelompok perawatan atau kelas untuk mengatasi kepercayaan diri yang hilang, kesadaran diri, keterampilan interpersonal dan sosial, manajemen stres dan pengembangan peran, dan juga bekerja sama dengan klien untuk mengembangkan kepentingan dan pengejaran rekreasi atau avocational (AOTA, 2013).

Modalitas terapi menggunakan latihan tinju sederhana (Img. helenhayeshospital.org)

Kesimpulan 

Menjadi seorang atlet sangatlah tidak mudah, tahun ke tahun tuntutan atlet semakin bertambah entah itu secara fisik maupun emosional. Cedera olahraga merupakan hal yang tidak dapat dihindari bagi seorang atlet. Maka dari itu monitoring cedera sejak sebelum dan sesudah aktivitas olahraga sangatlah penting bagi klien. 

Tindakan rehabilitasi pasca cedera menjadi hal penting bagi para atlet. Assessment dan intervensi yang dilakukan pun harus didokumentasikan dengan baik agar tidak terjadi reinjury bagi klien. Peran terapis okupasi pada sport rehabilitation menjadi sangat penting, namun minimnya sumber informasi bagi terapis okupasi dan evidence-based practice menjadikan terapis okupasi memiliki peran yang minimal dalam perhelatan keolahragaan.

Maka dari itu, sangat penting bagi terapis okupasi mengetahui perannya agar kedepannya dapat terlibat lebih untuk sport rehabilitation

Jadi, tertarik belajar dan mengambil peran sebagai terapis okupasi di bidang keolahragaan nih?


Referensi

American Occupational Therapy Association. (2014). The Role of Occupational Therapy for Rehabilitation of the Upper Extremity. USA.

American Occupational Therapy Association. (2013). Occupational Therapy’s Role in Community Mental Health. USA. https://www.aota.org/about-occupational-therapy/professionals/mh/community-mental-health.asp

Cambridge Technicals Level. (2018). Sport and Pysical Activity Unit 17. https://www.ocr.org.uk/Images/258741-sports-injuries-and-rehabilitation.pdf

Comfort, P., & Abrahamson, E. (Eds.). (2010). Sports rehabilitation and injury prevention. John Wiley & Sons.

Dhillon, H., Dhilllon, S., & Dhillon, M. S. (2017). Current concepts in sports injury rehabilitation. Indian journal of orthopaedics51(5), 529-536.

Heijnen, L. (2008). The role of rehabilitation and sports in haemophilia patients with inhibitors. Haemophilia14, 45-51.

Hootman JM, Dick R, Agel J. Epidemiology of collegiate injuries for 15 sports: Summary and recommendations for injury prevention initiatives. J Athl Train 2007;42:311-9.

Host, A., & Mankie, K. (2018). Occupational Therapy’s Role in Sport: A Website on Promotion and Education for OT’s and Coaches.

Kompas.id (2022) https://www.kompas.com/sports/read/2022/01/03/12000028/daftar-ajang-olahraga-2022-dari-sea-games-hingga-piala-dunia-qatar (diakses pada 22 Juli 2022)

Manee, F. S., Nadar, M. S., Alotaibi, N. M., & Rassafiani, M. (2020). Cognitive assessments used in occupational therapy practice: A global perspective. Occupational Therapy International2020.

Reed, N. (2011). Sport-Related Concussion and Occupational Therapy: Expanding the Scope of Practice. Physical & Occupational Therapy In Pediatrics, 31(3), 222-224.

Praktik Terapi Okupasi Pada Perawatan Paliatif (Palliative Care)

Merawat layanan paliatif (Img: media.mehrnews.com)

Ketika kita membahas tentang peran terapis okupasi rasanya tidak pernah ada batasannya. Salah satu tujuan terapis okupasi adalah membuat hidup klien kita menjadi lebih bermakna dengan ataupun tanpa kondisi yang klien alami.

Praktisi terapi okupasi berperan penting pada tim perawatan paliatif dan hospice (perawatan terminal atau stadium akhir) dengan mengidentifikasi peran dan kegiatan kehidupan (occupation) yang bermakna bagi klien dan mengatasi hambatan yang dialami klien dalam melakukan aktivitas kesehariannya.

Tidak seperti penyedia layanan kesehatan lainnya, terapis okupasi mempertimbangkan kebutuhan kesehatan fisik dan psikososial/perilaku klien, berfokus pada apa yang paling penting bagi klien untuk dicapai, sumber daya dan sistem pendukung yang tersedia, dan lingkungan di mana klien ingin dan dapat berpartisipasi (AOTA, 2015).

Apa Itu Perawatan Paliatif ?

Saat mendengar kata palliate yang terpikirkan adalah sebuah tindakan meringankan atau meredakan. Perawatan paliatif adalah pendekatan tim interdisipliner yang digunakan untuk orang-orang dengan penyakit serius atau mengancam jiwa untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Tujuan perawatan paliatif termasuk memberikan bantuan untuk manajemen rasa sakit dan manajemen gejala, memberikan dukungan terhadap klien dan keluarga klien, dan mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual perawatan dengan perawatan medis yang diperlukan (Guo & Shin, 2005). 

Menguatkan klien selama perawatan paliatif (Img: media.istockphoto.com)

Kanker, Alzheimer, penyakit jantung kronis, multiple sclerosis, brain injury dan lain-lain merupakan diagnosis-diagnosis yang masuk ke dalam perawatan paliatif. Namun, cakupan penyakit yang termasuk ke dalam paliatif masih belum jelas hingga saat ini terutama di bidang psikiatri atau kejiwaan, karena banyak gangguan mental yang bersifat persisten dan berdampak negatif pada kualitas hidup serta harapan hidup seseorang.

Sedangkan di lain hal berdasarkan pada definisi perawatan paliatif WHO yang diterima secara luas saat ini hanya mencakup penyakit kejiwaan persisten yang parah. Hal ini menjadi concern paliatif psikiatri agar definisi perawatan paliatif oleh WHO yang lebih berfokus terhadap penyakit, diubah menjadi lebih fokus ke dalam berpusat pada klien mengingat tujuan dari perawatan paliatif adalah peningkatan kualitas hidup seseorang yang berada pada ambang kematiannya (Lindblad, Helgesson & Sjöstrand, 2019).


The multi-professional academic network at the Interdisciplinary Center for Palliative Medicine.


Peran Terapi Okupasi secara Spesifik

Seperti yang kita ketahui perawatan paliatif bersifat interdisiplin, dimana berbagai macam profesi termasuk terapis okupasi bekerja sama dalam satu tim untuk mencapai tujuan. Terapis okupasi bekerja pada orang-orang dengan penyakit yang membatasi kehidupan dalam berbagai setting, termasuk kesehatan masyarakat, perawatan usia lanjut, rehabilitasi masyarakat, klinik rawat jalan, perawatan akut, pusat rehabilitasi rujukan spesialis, rumah sakit harian, rumah sakit dan unit perawatan paliatif rawat inap (OTA, 2015).

Dalam praktiknya terapis okupasi dapat bekerja pada bidang assessment dan intervensi, sebagai berikut:  

Assessment 

Melihat klien secara holistic adalah sebuah keharusan. Dalam perawatan paliatif terapis okupasi menggunakan pendekatan client-centered sehingga assessment yang dilakukan berpusat pada individu dan caregiver atau orang terdekat (Cooper, 2013).  Pemeriksaan terstandar yang dapat digunakan saat assessment klien salah satunya adalah Canadian Occupational Performance Measure (COPM) dimana pemeriksaan ini sangat sejalan dengan client-centered approach.

Dalam melakukan assessment, seorang terapis okupasi harus dapat menganalisis gangguan fungsional klien dengan baik dan sedetail mungkin. Beberapa hal yang perlu diassesment oleh terapis okupasi selain gangguan fungsional dan konteks individu adalah konteks lingkungan. Terapis okupasi dapat melihat apakah pasien membutuhkan modifikasi lingkungan dimana klien tinggal maupun klien beraktivitas.

Oleh sebab itu praktisi terapi okupasi memahami hubungan transaksional antara orang, lingkungan, dan aktivitas bermakna untuk mendukung okupasi berkelanjutan yang diinginkan, dapat meningkatkan kualitas hidup bagi orang-orang yang sedang sekarat, serta untuk orang yang mereka cintai (WFOT, 2016).


Intervensi 

Dalam tahapan intervensi, terapis okupasi juga harus menggunakan pendekatan client- centered bekerjasama dengan klien dan care giver. Hal ini berkaitan dengan bentuk intervensi dan tujuan yang akan dicapai bersama.

Sebagai contoh, klien dengan kanker memiliki kewaspadaan dan tingkat kesadaran lingkungan yang cukup baik namun memiliki permasalahan pada manajemen rasa sakit, pengendalian gejala yang menjadi dasar permasalahan kegiatan sehari-harinya akan berbeda dengan klien penyakit Alzheimer yang dirujuk pada tahap selanjutnya yang secara kognitif mengalami penurunan tetapi mengalami sedikit rasa sakit.

Memberikan ketenangan kepada klien (Img: www.all-can.org)

Berikutnya dalam situasi terminal, bentuk intervensi akan lebih tepat diarahkan pada berbagai tantangan yang dihadapi pengasuh, seperti memandu dalam mengelola perilaku dan tindakan keamanan bagi klien (Ann, et al., 2011).

Setelah tindakan assessment secara menyeluruh terapis okupasi dapat mengetahui area mana saja yang perlu dilakukan intervensi, apakah itu pada Activities of Daily Living (ADLs), Instrumental Activities of Daily Living (IADLs), Rest and Sleep, Leisure Participation,dan social participation.

Berikut adalah intervensi atau tindakan yang terapis okupasi lakukan berdasarkan area klien yang terdampak menurut panduan AOTA (2015).

Activities of Daily Living (ADLs) :

Berpakaian

Menggunakan peralatan adaptif, teknik pengerjaan aktivitas yang dimodifikasi, prinsip konservasi energi, dan mekanika tubuh yang tepat untuk meminimalkan rasa kelelahan berlebihan, dan rasa sakit (misalnya dalam berpakaian di tempat tidur untuk memaksimalkan kemandirian dan keselamatan).

Mandi

Menggunakan peralatan khusus atau adaptif untuk memaksimalkan keselamatan (misalnya grip bar dan bangku shower) dan menggabungkan prinsip konservasi energi.

Mobilitas fungsional

Menggabungkan strategi pencegahan jatuh (misalnya menghilangkan bahaya seperti menggunakan karpet dengan permukaan anti licin dan meningkatkan pencahayaan ruangan) dan menumbuhkan kesadaran akan masalah dan keterbatasan keselamatan dalam lingkungan, sambil memperkuat kepercayaan diri dan kemampuan klien. Menyediakan perangkat positioning dan mobilitas yang optimal untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan, sekaligus mengurangi risiko luka akibat tekanan. 

Membantu mengenakan pakaian (Img: stocks.adobe.com)

Instrumental Activities of Daily Living (IADLs)

Persiapan makan

Menggabungkan prinsip konservasi energi dan modifikasi aktivitas seperti menggunakan gerobak beroda dan mengatur ulang penyimpanan dapur untuk akses yang lebih mudah. Membantu diet sehat dan menyiapkan bahan makanan untuk manajemen nutrisi. 

Manajemen rumah

Mengevaluasi toleransi aktivitas dan mekanika tubuh dengan tugas-tugas seperti membersihkan rumah atau mencuci pakaian. Menyarankan modifikasi aktivitas, sistem pendukung, peralatan adaptif, ritme dalam aktivitas, dan teknik konservasi energi.

Manajemen kesehatan

Memberikan strategi tentang cara mengelola gejala yang terkait dengan kelelahan, nyeri, kecemasan, atau sesak napas selama aktivitas sehari-hari. 

Kegiatan keagamaan atau spiritual

Memodifikasi kegiatan atau sumber daya untuk membantu mengembangkan atau memelihara keterlibatan dalam kegiatan peribadatan atau kerohanian, jika diinginkan (Pizzi, 2010).

Rest and Sleep :  

  • Mengevaluasi kebiasaan tidur dan siklus tidur /bangun klien, dan mengembangkan rutinitas sebelum tidur untuk memfasilitasi periode tidur restoratif yang lebih lama. 
  • Memberikan teknik relaksasi dan positioning untuk meningkatkan kenyamanan dalam beristirahat, meningkatkan kemampuan beristirahat, dan mengurangi kerusakan kulit dari tekanan. 

Partisipasi Rekreasi

  • Mengidentifikasi dan memfasilitasi cara untuk berpartisipasi dalam kegiatan rekreasi dan komunitas yang menyenangkan dengan adanya perubahan kemampuan dan peran melalui modifikasi dan/atau dengan mengeksplorasi alternatif. 
  • Menggunakan teknik relaksasi, strategi mengatasi, manajemen kecemasan, manajemen waktu, dan ritme aktivitas untuk memfasilitasi partisipasi dalam kegiatan yang diinginkan. 
  • Mengidentifikasi dan memfasilitasi cara-cara untuk mempertahankan fungsi kognitif (misalnya, memori dan konsentrasi) untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang bermakna.
Berinteraksi & Menghibur Klien (Img: www.pbs.org)

Kesehatan Psikososial/Perilaku

  • Melibatkan klien dan keluarga mereka dalam diskusi tentang perasaan, ketakutan, dan kecemasan mereka. Jika sesuai, berikan dukungan dan sumber daya untuk membantu menciptakan rencana akhir masa aktif, dan tetap terorganisir selama proses (Pizzi, 2010).
  • Mendorong keterlibatan komunikasi dan keluarga untuk mendukung keinginan klien, dan mempromosikan koneksi sosial yang berkelanjutan (Park Lala & Kinsella, 2011). 
  • Mendukung peran pengasuh, termasuk komunikasi tentang harapan realistis, dan edukasi tentang mekanika dan teknik tubuh yang aman selama kegiatan sehari-hari dan berpindah tempat, manajemen diri, dan kemampuan untuk mengurangi burnout (misalnya, kelompok pendukung pengasuh, atau perawatan hari hospice dewasa).

Kesimpulan 

Terapi Okupasi menjadi salah satu profesi yang melakukan perawatan paliatif bersama profesi lain. Meningkatkan kualitas hidup klien meski berada pada ujung akhir kehidupan menjadi salah satu tujuan terapi okupasi.

Dengan memahami peran dan tindakan intervensi yang tepat melalui client-centered approach terapis okupasi diharapkan dapat bekerjasama dengan klien dan caregiver dalam menciptakan kehidupan yang bermakna meskipun klien memiliki permasalahan kesehatan yang menghambat aktivitas kesehariannya.

Referensi

Allen, M. (2015). The role of occupational therapy in palliative and hospice care. https://www.aota.org/-/media/Corporate/Files/AboutOT/Professionals/WhatIsOT/PA/Facts/FactSheet_PalliativeCare.pdf

Ann Burkhardt, O. T. D., Mack Ivy MOT, O. T. R., Kannenberg, K. R., & Youngstrom, M. J. (2011). The role of occupational therapy in end-of-life care. The American Journal of Occupational Therapy65(6), S66.

Cooper, J. (Ed.). (2013). Occupational therapy in oncology and palliative care. John Wiley & Sons.

Guo, Y., & Shin, K.Y. (2005). Rehabilitation needs of cancer patients. Critical Reviews in Physical and Rehabilitation Medicine, 17(2), 83–99. doi:10.1615/CritRevPhysRehabilMed.v17.i2.10

Lindblad, A., Helgesson, G., & Sjöstrand, M. (2019). Towards a palliative care approach in psychiatry: do we need a new definition?. Journal of medical ethics45(1), 26-30.

World Faderation of Occupational Therapist.(2016). Occupational Therapy in the end of life Care. https://wfot.org/assets/resources/Occupational-Therapy-in-End-of-Life-Care.pdf

Membatik sebagai Modalitas Okupasional untuk Mencapai Well-Being

Membatik (Img: asset.kompas.com)

Melakukan kegiatan bermakna merupakan kebutuhan dasar dari manusia. Bertitel ‘makhluk okupasional’ sepanjang hidup merupakan peranan utama manusia sepanjang usia. Maka, menjadi wajar bila okupasi lekat, dekat dan terikat dengan manusia. Pemaknaan kegiatan bermakna atau okupasi menjadi pendapat masing-masing individu apakah sebuah okupasi menjadi bermakna ataupun tidak bagi dirinya.

Dalam Morrison et al. (2017), mendefinisikan okupasi adalah situasi klien di mana mampu berpartisipasi dalam kehidupan, misalnya perawatan diri, pemanfaatan waktu luang, produktivitas bekerja dan lainnya dengan terintegrasi pada konteks klien, memiliki manfaat terhadap kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan klien sepanjang hidupnya.

Selain kesehatan, okupasi juga melingkupi berbagai aspek mulai sosial, budaya, ekonomi, biologis dan filosofi. Maka, melihat okupasi perlu secara utuh.

Okupasi lekat dengan banyak aspek dan budaya masyarakat termasuk di dalamnya. Kita mengenal salah satu okupasi khas di Indonesia yang menjadi salah satu bentuk hasil budaya yang bahkan diakui oleh UNESCO pada tahun 2009 (UNESCO, 2009).

Bila ditelisik lebih lanjut, selain memiliki nilai budaya, kita ketahui bahwa membatik sebetulnya juga terdapat nilai okupasional di dalamnya yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu modalitas terapi berbasis kepada okupasi.

Batik sebagai produk kebanggaan, bagian dari karya & ciri khas bangsa Indonesia (Img: awsimages.detik.net.id)

Membatik sebagai Modalitas yang Holistik

Membatik, Art Therapy yang Berbasis Okupasi

Aktivitas membatik dapat dikatakan merupakan salah satu kegiatan yang memanfaatkan seni lukis sebagai bagian utama dalam keseluruhan tahap aktivitasnya. Dalam perspektif kesehatan, kita mengenal adanya art therapy atau terapi seni lukis sebagai salah satu modalitas psikoterapi dalam disiplin ilmu psikologi.

Aktivitas membatik dapat pula ditujukan sebagai bagian dari terapi melukis untuk diaplikasikan dalam layanan berbasis okupasi kepada klien, namun selain memanfaatkan esensi psikoterapinya, dapat pula terapis okupasi menerapkan prinsip terapi okupasi dan memanfaatkannya sebagai modalitas terapi.

Kelompok lansia sedang membatik (Img: statik.tempo.co)

Contoh modalitas art therapy yang dapat digunakan dalam terapi okupasi dalam praktik dan penelitian ditunjukkan dalam Ingkir, Wondal & Arfa (2020), Syafitri & Jaya (2020) & Rochmah & Hasibuan (2020) dengan menerapkan aktivitas membatik pada anak usia sekolah untuk melatih kemampuan motorik halus.

Dalam riset tersebut melakukan membatik dengan teknik jumputan, dengan mengikat kain dalam beberapa bagian kemudian masing-masing bagian diwarnai beragam warna dengan kuas lukis. Melalui contoh tahapan tersebut saja, proses holistik melibatkan beragam komponen dan keterampilan anak dapat berjalan bersamaan, mulai komponen fisik, mental (termasuk kognitif di dalamnya) dan sosial.

Pemberdayaan ODGJ melalui Membatik

Riset lain mengamati kegiatan lukis pada klien dengan masalah kejiwaan. Dalam Wulandari dkk. (2021) meneliti pemberdayaan ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) stabil dan siap kembali ke masyarakat dalam kegiatan membatik secara berkelompok.

Riset tersebut dilakukan dalam 3 sesi, dengan dimulai penyuluhan kegiatan membatik, pendampingan proses membatik hingga tahap penjualan batik dengan partisipan secara kompleks berkreasi, membuat-mewarna batik dan bersosial dengan rekan ODGJ dalam kelompok sosial di sana.

Pembuatan batik di RSJD RM Soedjarwadi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Img: images.solopos.com)

Dalam sampel lain pada klien personality disorder, intervensi kegiatan melukis bebas dilakukan dengan melukis di kanvas sesuai dengan apa yang klien rasakan, pikirkan maupun yang klien ingin lakukan (Haeyen et al., 2018). Tujuan dari melukis tersebut untuk melatih respon reflektif klien terhadap lukisan yang menggambarkan klien, menyadarkan kontrol diri klien dan identitas klien sebenarnya kepada klien sendiri.

Pada prinsipnya, aktivitas membatik pun memiliki kesamaan dalam contoh-contoh tersebut. Melingkupi berbagai aspek komponen fungsi tubuh, baik komponen fisik, mental dan sosial. Seluruh komponen akan bekerja bersamaan terlebih bila dilakukan berkelompok, komponen interaksi sosial ikut berperan banyak.

Esensi Okupasional dalam Aktivitas Membatik

Klien ODGJ mengikuti terapi seni membatik di RSJD Magelang (Img: jogja.tribunnews.com)

Bila membahas penerapan membatik dalam konteks art therapy sebagai modalitas dalam praktik terapi okupasi, tentu akan memiliki makna yang berbeda ketika bergantung pada konteksnya apakah sebagai aktivitas pemanfaatan waktu luang, bermain atau produktivitas.

Masing-masing definisi konteks tersebut dapat anda akses dalam practice framework terapi okupasi dalam Occupational Therapy Practice Framework (Fourth Edition; 2020) maupun edisi lainnya oleh AOTA dengan setelah anda pahami, perencanaan intervensi tentu akan berbeda dan menyesuaikan pada prinsip masing-masing kategori okupasi.

Membatik, Dayaguna Kreativitas Seni Lukis Fungsional

Hansen, Erlandsson & Leufstadius (2020) melakukan riset perihal konsep penggunaan aktivitas kreatif sebagai modalitas intervensi dalam praktek terapi okupasi. Dikatakan bahwa aktivitas kreatif (apapun bentuk kegiatannya) sebagai modalitas intervensi memiliki beberapa poin:

  1. Menggerakkan tubuh dan pikiran dengan melibatkan kesenian auat prakarya
  2. Memiliki makna, dilakukan di lingkungan yang kreatif & mendukung
  3. Meningkatkan proses kreatif, pengalaman dan kesempatan untuk mengekspresikan & merefleksikan diri.
  4. Dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan, meningkatkan performa okupasi & memanajemen kehidupan sehari-hari.
  5. Digunakan secara individual maupun kelompok, dimodifikasi melalui pendekatan terapeutik yang berbeda demi mencapai tujuan yang diharapkan dalam situasi/setting tertentu.

Selain melihat perspektif terapis dalam penggunaan aktivitas kreatif, terapis juga perlu melihat makna modalitas melukis atau menggambar sebagai aktivitas kreatif dalam terapi berdasarkan persepsi klien. Disebutkan dalam Stuckey & Nobel (2008) bahwa seni lukis membantu mengekspresikan perasaan ke dalam gambar, karena sulit mencurahkan dalam bentuk tulisan.

Membebaskan Ekspresi & Seni dalam Batik

Menyalurkan ekspresi tersebut membentuk identitas, keyakinan positif, berdamai dengan keadaan, sarana meditasi dan mindfulness, utamanya hal-hal tersebut dilakukan oleh klien-klien dengan masalah kejiwaan dan klien dalam masa paliatif maupun terminasi.

Seperti art therapy, aktivitas membatik memiliki tujuan sekaligus manfaat tertentu, khususnya dalam lingkup kesehatan bagi tiap individu yang melakukannya, misalnya menenangkan diri, mengurangi kecemasan, katarsis dari perasaan negatif, melatih komponen motorik halus, mengisi waktu luang, mereduksi gangguan sensori maupun bersosial dengan teman satu hobi atau komunitas.

Seorang Ibu sedang konsentrasi & tenang ketika membatik (Img: jogja.tribunnews.com)

Manfaat Melibatkan Art Therapy menurut Penelitian

Berikut ulasan perihal beberapa riset bagaimana melukis atau seni lukis sebagai modalitas terapi dapat memberikan manfaat dalam pelayanan kepada klien.

Dalam Kongkasuwan et al. (2015) disebutkan manfaat dari terapi lukis pada klien dengan stroke. Penggunaan terapi lukis dalam riset dilakukan dalam dua kali seminggu, dikombinasikan dengan fisioterapi lima kali tiap seminggu dalam empat minggu sesi didapatkan penurunan depresi dan adanya peningkatan pada kemampuan fungsional, nilai kepuasan hidup, motivasi, konsentrasi dan kepercayaan diri setelah terapi dilakukan.

Berikutnya ditemukan dalam review literatur, menyebutkan bahwa penggunaan seni kreatif sebagai modalitas terapi okupasi dikatakan mengubah sikap terhadap penderitaan klien, membantu menemukan tujuan hidup dan menumbuhkan dukungan sosial (Perruza & Kinsella, 2010)

Dalam riset Zeevi, Regev & Guttmann (2018) pada orang tua dengan anak prasekolah (normal; usia 5-8 tahun) tentang training melakukan terapi lukis bersama anak. Penelitian tersebut dilakukan dalam 24 sesi mengamati lukisan dan melukis, dengan 12 sesi pertama hanya melakukan melukis dan 12 sesi terakhir mengkombinasikan melukis dengan terapi music reminiscence.

Didapatkan hasil peningkatan pada perkembangan emosional dan psikologis anak, di mana turut meningkatkan kesadaran orang tua untuk lebih menjalin hubungan kedekatan dengan anak dengan banyak terlibat dalam dunia sang anak.

Riset pengaruh terapi seni lukis pada sampel lansia dengan masalah gangguan kognitif dikatakan meningkatkan kemampuan memori, atensi, memori jangka panjang dan seluruh kemampuan kognitif lansia (Lee et al., 2018).  

Anak usia sekolah dasar sedang belajar membatik (Img: rmol.id/)

Kesimpulan

Dalam memberikan pelayanan terapi okupasi, kita perlu melihat klien secara holistik dengan mempertimbangkan modalitas yang akan diberikan tentu perlunya dapat berdampak secara holistik pula. Aktivitas kreatif dalam bentuk apapun kegiatannya, utamanya seni lukis, dikaji dalam berbagai riset ditemukan manfaat yang dapat membantu klien menuju well being.

Seni lukis memiliki beragam bentuk pula, termasuk terpengaruh oleh sosial budaya setempat, sebagai contohnya batik. Melukis dan mewarna batik sebagai modalitas intervensi dalam terapi dikatakan dalam riset memiliki berbagai manfaat dalam konteks layanan manapun, baik pediatri, dewasa maupun kesehatan jiwa. 


Referensi

Haeyen, S., Hooren, S. V., Dehue, F., & Hutschemaekers, G. (2017). Development of an art-therapy intervention for patients with personality disorders: An intervention mapping study. International Journal of Art Therapy, 23(3), 125-135. doi:10.1080/17454832.2017.1403458

Hansen, B. W., Erlandsson, L., & Leufstadius, C. (2020). A concept analysis of creative activities as intervention in occupational therapy. Scandinavian Journal of Occupational Therapy, 28(1), 63-77. doi:10.1080/11038128.2020.1775884

Indonesian Batik. (n.d.). Retrieved from https://ich.unesco.org/en/RL/indonesian-batik-00170

Ingkir, Yuni, Wondal, Rosita, Arfa, Umikalsum. (2020). Kegiatan Membatik dalam Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Anak. Jurnal Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 3, No. 1, Oktober 2020.

Kongkasuwan, R., Voraakhom, K., Pisolayabutra, P., Maneechai, P., Boonin, J., & Kuptniratsaikul, V. (2016). Creative art therapy to enhance rehabilitation for stroke patients: A randomized controlled trial. Clinical Rehabilitation, 30(10), 1016-1023. doi:10.1177/0269215515607072

Lee, R., Wong, J., Shoon, W. L., Gandhi, M., Lei, F., Eh, K., . . . Mahendran, R. (2019). Art therapy for the prevention of cognitive decline. The Arts in Psychotherapy, 64, 20-25. doi:10.1016/j.aip.2018.12.003

Morrison, R., Gómez, S., Henny, E., Tapia, M. J., & Rueda, L. (2017). Principal Approaches to Understanding Occupation and Occupational Science Found in the Chilean Journal of Occupational Therapy (2001–2012). Occupational Therapy International, 2017, 1-11. doi:10.1155/2017/5413628

Perruzza, N., & Kinsella, E. A. (2010). Creative Arts Occupations in Therapeutic Practice: A Review of the Literature. British Journal of Occupational Therapy, 73(6), 261-268. doi:10.4276/030802210×12759925468943

Stuckey, H. L., & Nobel, J. (2010). The Connection Between Art, Healing, and Public Health: A Review of Current Literature. American Journal of Public Health, 100(2), 254-263. doi:10.2105/ajph.2008.156497

Syafitri, Della, Jaya, Indra. (2020). Pengaruh Membatik terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak di Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Kuraitaji. —- volume VI. No. 1, Januari-Juni 2020.

Wulandari, N., Nurmawati, T., Setyani, E. Y., Christiningtyas, E. B., Arifianti, K., & Saparudin, A. (2021). Empowerment of ODGJ (People with Mental Disorders) through Training of Batik Ikat Making in Posyandu Jiwa “Waluyo Jiwo” Bacem Village Ponggok Blitar. Journal of Community Service for Health, 2(1), 001-009. doi:10.26699/jcsh.v2i1.art.p001-009

Zeevi, L. S., Regev, D., & Guttmann, J. (2018). The Efficiency of Art-Based Interventions in Parental Training. Frontiers in Psychology, 9. doi:10.3389/fpsyg.2018.01495

Bagaimana Terapi Okupasi dapat Berperan pada Klien yang Mengidentifikasi Diri sebagai LGBTQ+ ?

Gambar oleh Wokandapix dari Pixabay

Seksual orientasi maupun identitas gender, untuk era sekarang memang tidak hanya dia (laki-laki) ataupun dia (perempuan) atau laki-laki menyukai perempuan. Saat ini seksual orientasi dan identitas gender ada yang dinamakan LGBTQ+ yang berarti Lesbian, Gay, Bisexsual, Transgander, Queer, + untuk lain-lain.

Mungkin artikel ini akan menjadi bacaan pertama tentang terapis okupasi pada LGBTQ+ dalam bahasa Indonesia. Maka dari itu sebelum kita belajar lebih dalam, mari kita mengambil waktu sejenak dan menyimpan persepsi pribadi. Penulis akan memposisikan diri sebagai profesional terapis okupasi bukan secara pribadi. Maka diharapkan pembaca juga melakukan hal yang sama.

Jika kawan-kawan sudah menempatkan diri sebagai profesional maka mari kita lanjutkan membaca artikel ini.

Seperti yang kita ketaui dalam kode etik okupasi terapis Indonesia (2021) menyatakan “Anggota IOTI berkomitmen untuk mempromosikan sistem inklusi, partisipasi, keamanan, dan kesejahteraan untuk individu, kelompok, keluarga, organisasi, masyarakat, dan atau populasi di berbagai tahap kehidupan dan tingkat kesehatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan okupasi mereka”.

Berikutnya, terdapat 7 core values yang menjadi inti pelayanan terapis okupasi yaitu Altruisme, Equality (kesetaraan), Freedom (kebebasan), Justice (keadilan), Dignity (bermartabat),  Prudence (bijaksana). Maka dari aturan kode etik okupasi terapis Indonesia ini kita tau bahwa sebagai terapis okupasi, kita harus dapat menjadi tenaga kesehatan yang professional untuk semua kalangan tanpa adanya diskriminasi.


Apakah LGBTQ+ merupakan Penyakit Kejiwaan?

Sejak 1975, American Psychological Association telah meminta psikolog untuk memimpin dalam menghilangkan stigma gangguan kesehatan jiwa yang telah lama dikaitkan dengan orientasi lesbian, gay dan biseksual.

LGBT adalah singkatan dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. “LGB” dalam istilah ini mengacu pada orientasi seksual. Orientasi seksual didefinisikan sebagai pola ketertarikan emosional, romantis, dan/atau seksual yang sering bertahan lama dari pria ke wanita atau wanita ke pria (heteroseksual), dari wanita ke wanita atau pria ke pria (homoseksual), atau oleh pria atau wanita untuk kedua jenis kelamin (biseksual).

Genderbreed Person V 2.0 (Img. https://www.itspronouncedmetrosexual.com/)

Ini juga mengacu pada rasa identitas pribadi dan sosial individu berdasarkan daya tarik tersebut, perilaku terkait dan keanggotaan dalam komunitas orang lain yang berbagi daya tarik dan perilaku tersebut. Beberapa orang yang memiliki ketertarikan atau hubungan sesama jenis dapat mengidentifikasi diri sebagai “aneh,” atau, karena berbagai alasan pribadi, sosial atau politik, mungkin memilih untuk tidak mengidentifikasi diri dengan label ini atau label apa pun. 

    “T” dalam LGBT adalah singkatan dari transgender atau gender yang tidak sesuai, dan merupakan istilah umum untuk orang-orang yang identitas gender atau ekspresi gendernya tidak sesuai dengan yang biasanya terkait dengan jenis kelamin yang diberikan kepada mereka saat lahir. Beberapa yang tidak mengidentifikasi diri sebagai laki-laki atau perempuan lebih suka istilah “genderqueer.” Dan penting untuk dipahami bahwa orientasi seksual dan identitas gender bukanlah hal yang sama (APA, 2008).

Apa yang Menyebabkan Seseorang Memiliki Seksual Orientasi Tertentu?

Tidak ada konsensus (persetujuan secara umum) di antara para ilmuwan tentang alasan yang tepat bahwa seseorang mengembangkan orientasi heteroseksual, biseksual, gay, atau lesbian. Meskipun banyak penelitian telah meneliti kemungkinan pengaruh genetik, hormonal, perkembangan, sosial, dan budaya pada orientasi seksual, tidak ada temuan yang muncul yang memungkinkan para ilmuwan untuk menyimpulkan bahwa orientasi seksual ditentukan oleh faktor atau faktor tertentu.

Banyak yang berpikir bahwa nature (secara alamiah) dan nurture (proses didikan dan asuhan) keduanya memainkan peran yang kompleks; bahkan kebanyakan orang mengalami sedikit atau tidak ada pilihan tentang orientasi seksual mereka (APA, 2008).

Gambar oleh Myriams-Fotos dari Pixabay

Permasalahan yang Dihadapi oleh Individu dengan LGBTQ+ 

Menghadapi Prasangka Tidak Baik dan Diskriminasi 

Sebelum 1970-an, homoseksualitas dianggap sebagai penyakit yang menyimpang, menular, berbahaya, dan tidak dapat diobati yang diagnosisnya paling sering menyebabkan pengusiran dari institusi (Tierney & Dilley, 1998 dalam Kay, 2022). Untuk menghilangkan anggapan negatif ini tentunya tidak mudah dan membutuhkan waktu serta dukungan dari berbagai pihak.

Bahkan di negara maju, orang-orang lesbian, gay, dan biseksual di Amerika Serikat menghadapi prasangka, diskriminasi, dan kekerasan yang luas karena orientasi seksual mereka. Prasangka yang intens terhadap lesbian, pria gay, dan orang biseksual tersebar luas di sebagian besar abad ke-20 , bahkan sikap diskriminasi yang sebagian besar dialami berupa kekerasan verbal maupun fisik (APA, 2008). 

Occupational Injustice

Occupational injustices digambarkan sebagai kondisi seseorang yang memiliki pengalaman occupation dengan penuh tekanan karena kondisinya (Hammell & Beagan, 2017) Sedangkan occupational justice yang dideskripsikan oleh Nilsson and Townsend (2010) merupakan keadilan dari perbedaan: keadilan untuk mengakui hak-hak occupational tanpa memandang usia, kemampuan, jenis kelamin, kelas sosial, atau perbedaan lainnya”.

Gambar oleh Flore W dari Pixabay

Individu dengan LGBTQ+ banyak yang mengalami kesulitan dan terisolasi dalam aspek sekolah atau akademik, kependudukan dan struktur sosial karena harus menanggung kebijakan yang membatasi mereka, staf-staf yang tidak mendukung, bias gender dan orientasi, dan intimidasi atau bullying dari orang sekitar (Kay, 2022). 

Namun faktanya individu dengan LGBTQ+ mengalami occupational injustice bukan hanya hasil dari masyarakat luar namun dari lingkungan profesi kesehatan, dimana orang dewasa dan remaja yang mengidentifikasi sebagai selain laki-laki / perempuan atau heteroseksual, sering mengalami jumlah kesempatan yang tidak proporsional dari kesenjangan perawatan kesehatan mental dan fisik daripada rekan-rekan heteroseksual (Willey, 2021).

Selain itu occupational injustice juga terjadi pada kalangan terapis okupasi karena hasil dari kurangnya pengetahuan & kompetensi klinisi. Menurut penelitian yang dilakukan Willey (2021) tentang Occupational Therapists’ Consideration of Sexual Orientation and Gender Identity when Working with Adolescents: An Exploratory Study, menyatakan bahwa occupational justice lebih mungkin terjadi jika OTs memasukkan SOGI (Sexual Orientation & Gender Identity) sebagai faktor klien yang relevan dalam praktik terapi okupasi.

Sebaliknya,  situasi occupational injustice jika semua faktor klien tidak dipertimbangkan (AOTA, 2020). Contoh, jika seorang terapis okupasi tidak bertanya tentang SOGI klien, maka kemungkinan mereka menganggap klien mereka heteroseksual dan / atau pria atau wanita. Jika terapis okupasi tidak bertanya tentang SOGI klien, dan klien tidak menawarkan informasi ini, maka OTs tidak akan tahu apakah klien remaja membutuhkan dukungan, baik dengan topik khusus SOGI atau dukungan untuk mengejar occupation yang paling berarti bagi mereka.

Mengalami Permasalahan Fisik maupun Mental

Viktimisasi, diskriminasi, penolakan, dan prasangka yang terus dialami dan dihadapi adalah sumber stres yang mengarah pada masalah dan kekhawatiran kesehatan fisik dan mental yang sering terlihat di komunitas LGBT. 

Pengalaman yang buruk selama bertahun-tahun dan penyembunyian identitas asli seseorang dianggap sebagai faktor yang berkontribusi terhadap tingkat kondisi medis kronis yang lebih tinggi, seperti penyakit kardiovaskular, penyakit paru obstruktif kronis, radang sendi, dan gangguan kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan, yang terlihat pada populasi LGBT (Branstrom, 2017; Fredriksen-Goldsen et al., 2013; Meyer, 2003 dalam Simon, et al., 2021).


Bagaimana peran Terapi Okupasi pada individual dengan LGBTQ+ ? 

Melakukan Pemeriksaan (Img. Brooks.ac.uk)

Memasukan SOGI (Sexual Orientation & Gender Identity) dalam Proses Terapi Okupasi 

Untuk pertama kalinya SOGI (Sexual Orientation & Gender Identity) dianggap sebagai bagian dari proses terapi okupasi setelah depalan belas tahun sejak dikeluarkannya edisi pertama.

OTPF menggambarkan SOGI sebagai faktor pribadi yang harus dipertimbangkan, bersama dengan informasi demografis lainnya seperti: usia kronologis; ras dan etnis; identifikasi dan sikap budaya; latar belakang sosial, status sosial, dan status sosial ekonomi; pola pengasuhan dan pengalaman hidup; kebiasaan dan pola perilaku masa lalu dan saat ini; aset psikologis, temperamen, karakter unik yang dimiliki individu, dan gaya koping; pendidikan; profesi dan identitas profesional; gaya hidup; dan kondisi kesehatan dan status kebugaran (yang dapat mempengaruhi occupation seseorang tetapi bukan perhatian utama dari pertemuan terapi okupasi) (AOTA (2020), hlm. 10-11 dalam Willey, 2021).

Memasukan SOGI kedalam proses terapi sangatlah penting, karena dengan itu terapis okupasi dapat menentukan bentuk assessment, intervensi dan evaluasi yang sesuai dengan indidvidu, karena jika seorang tenaga kesehatan tidak mempertimbangakan SOGI dalam proses medikasi, maka hal ini dianggap tindakan yang menyakitkan karena tidak semua klien masuk kedalam heteroseksual, laku-laki maupun perempuan (Logie et al., 2019)

Mengidentifikasi Occupational Profile Individu dengan LGBTQ+ yang Terimplikasi karena SOGI Klien

Terapis okupasi harus sadar dan memiliki pengetauan tentang bagaimana kesenjangan kesehatan, kondisi kesehatan fisik, gangguan kejiwaan, dan tantangan sosial yang dihadapi yang berdampak pada occupational profile individu dengan LGBTQ+.

Dalam penelitian yang dilakukan Simon et al., (2021). The Role of Occupational Therapy in Supporting the Needs of Older Adults who Identify as Lesbian, Gay, Bisexual, and/or Transgender (LGBT). Memaparkan gambaran umum tentang perspektif ekologis terhadap narasi occupation dan perjalanan orang dewasa LGBT yang lebih tua dan dampaknya pada occupational profile-nya.

PersonOrang dewasa LGBT hadir dengan berbagai perubahan sistem terkait usia yang berdampak pada fungsi fisiologis, psikologis, motorik, kognitif, dan / atau spiritual.

Peningkatan risiko kesenjangan kesehatan menciptakan kebutuhan kritis untuk assessment yang akurat, evaluasi komprehensif, intervensi, dan proses rujukan yang tepat.
EnvironmentOrang dewasa LGBT dihadapkan pada “tantangan lingkungan,” mengingat jaringan dukungan sosial mereka, penentu sosial, lingkungan fisik dan sosial yang ada, dan kebijakan kesehatan dan hukum yang berlaku (Lecompte et al., 2020).

Dilema dan konflik dapat muncul ketika para penatua LGBT dihadapkan pada “lingkungan” yang tidak inklusif dan tidak mempertimbangkan kebutuhan populasi ini (Donaldson & Vacha-Haase, 2016).

Misalnya, pasangan mungkin tidak diterima sebagai kerabat berikutnya karena polisi yang ada di lingkungan tertentu. Beberapa akan melupakan bantuan yang diperlukan karena takut akan pekerja perawatan di rumah dan pengasuh yang tidak kompeten secara budaya dan mungkin tidak menerima gaya hidup mereka.
Occupational
Performance
Ada beragam kebutuhan dan keinginan orang dewasa LGBT yang bersaing dengan perubahan peran dan tujuan berdasarkan tingkat fungsi mereka; kebutuhan di rumah, di masyarakat, atau di tempat kerja; tahap kehidupan; dan adaptasi terhadap proses penuaan (Abbruzzese & Simon, 2018).

Tingkat fungsional sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan manusia. Klien mungkin tidak ingin melakukan terapi atau terbuka terhadap strategi yang bertujuan untuk memfasilitasi peningkatan fungsi.

Hambatan dan kendala tambahan menciptakan tantangan dalam memfasilitasi kinerja dan partisipasi occupational yang optimal.

Seperti yang kita ketahui bahwa individu LGBT memiliki occupational profile yang unik. Beberapa topik termasuk berpakaian atau masalah seksualitas, yang harus kita ketahui dan sadari. Mengatasi beragam ADL dan pekerjaan memerlukan pendekatan yang terbuka dan tidak menghakimi.

Sensitivitas untuk masalah ADLs yang berkaitan dengan berpakaian, perawatan, atau seksualitas dapat muncul, dan seorang terapis mungkin tidak yakin bagaimana mengatasi masalah dengan cara yang kompeten secara budaya dan klinis.

Misalnya, seseorang mungkin menghadapi kebutuhan transisi pada individu transgender yang mungkin mengalami tantangan berpakaian, beradaptasi dengan gaya baru, dan yang perlu mengelola berbagai jenis pakaian atau aksesori. Ini mungkin keadaan yang unik bagi seorang tenaga kesehatan yang tidak yakin, tidak mudah dan perlu merasa lebih sadar secara klinis dan kompetensi (Simon et al., 2021).

Mengembangkan Pengetahuan dan Perubahan Praktik

Terapis okupasi merupakan bagian dari agen perubahan. Seluruh terapis okupasi sebaiknya menyadari isu-isu terbaru yang membutuhkan peranan terapis okupasi dan ikut berproses serta mengembangkan ilmu pengetahuannya.

Untuk mengatasi kurangnya pengetahuan mengenai masalah dan kekhawatiran populasi LGBT, kita perlu membuat perubahan dalam pendidikan dan pelatihan kita baik fakultas maupun mahasiswa. Kerendahan hati budaya harus didorong dan peluang untuk menjadi lebih kompeten secara budaya dan klinis diperlukan. Kebutuhan, kekhawatiran, dan sejarah narasi LGBT harus lebih terlihat dalam pendidikan dan pelatihan (Simon et al., 2021). 

Upaya harus dilakukan oleh terapis okupasi untuk menciptakan lingkungan ramah LGBT dengan (a) mempromosikan penggunaan terminologi yang tepat, (b) merevisi formulir dan penilaian untuk memastikan inklusivitas, dan (c) memastikan selebaran pendidikan pasien netral gender.

Seluruh tenaga kesehatan harus didorong untuk melayani sebagai advokat untuk populasi ini di seluruh kontinum perawatan. Semua mekanisme ini akan mendorong peningkatan pemberian layanan OT (Simon et al., 2021).

Mengembangkan Ilmu Wajib Dilakukan oleh Tenaga Kesehatan
(Img. scopeblog.stanford.edu)

Kesimpulan 

Peran terapis okupasi pada komunitas LGBTQ+ memang terbilang baru, penelitian serta evidence based yang adapun masih terbatas. Namun isu ini sudah menjadi hal yang harus terapis okupasi ketahui mengingat terapis okupasi merupakan salah satu profesi yang membantu klien nya mencapai kehidupan yang penuh makna meskipun dengan kondisi tertentu.

Melayani tanpa diskriminasi, melihat klien secara holistic seharusnya tidak dibatasi oleh seksual orientasi dan identitas gender. Terapis okupasi harus memposisikan diri sebagai tenaga profesional yang tentunya memiliki kompetensi ketika dihadapkan dengan klien dengan SOGI yang tidak ada dalam kategori umumnya.

Populasi LGBTQ+ juga menghadapi permasalahan kesehatan fisik maupun jiwa seperti yang lain dan juga yang diakibatkan oleh pengalam sosial yang tidak baik yang terus dihadapi serta occupational injustice yang  mempengaruhi occupational individu LGBTQ+ yang mana peranan terapis okupasi sangat dibutuhkan pada hal ini. 


Referensi

American Psychological Association. (2008). Answers to your questions: For a better understanding of sexual orientation and homosexuality.  https://www.apa.org/topics/lgbtq

Hammell, K. R. W., & Beagan, B. (2017). Occupational injustice: A critique: L’injustice occupationnelle: une critique. Canadian Journal of Occupational Therapy84(1), 58-68.

IOTI (2021). SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT IKATAN OKUPASI TERAPIS INDONESIA NOMOR : 134/SKep/IOTI.PUSAT/V/2021. Ikatan Okupasi Terapis Indonesia

Kay, C. M. (2022). Challenges of Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer, Intersex, and Asexual (LGBTQIA) Students in Higher Education (Doctoral dissertation, Walden University).

Logie, C., Lys, C., Dias, L., Schott, N., Zouboules, M. R., MacNeill, N., & Mackay, K., (2019). “Automatic assumption of your gender, sexuality and sexual practices is also discrimination”: Exploring sexual healthcare experiences and recommendations among sexually and gender diverse persons in Artic Canada. Health Soc Care Community, 27, 1204–1213. https://doi.org/10.1111/hsc.12757

Nilsson, I., & Townsend, E. (2010). Occupational justice: Bridging theory and practice. Scandinavian Journal of Occupational Therapy, 17, 57–63. doi:10.3109/11038120903287182

Simon, P., Grajo, L., & Powers Dirette, D. (2021). The Role of Occupational Therapy in Supporting the Needs of Older Adults who Identify as Lesbian, Gay, Bisexual, and/or Transgender (LGBT). The Open Journal of Occupational Therapy9(4), 1-9.

Willey, K. (2021). Occupational Therapists’ Consideration of Sexual Orientation and Gender Identity when Working with Adolescents: An Exploratory Study.

Peranan Kreativitas dalam Pelayanan Terapi Okupasi

Kreativitas (Img. https://www.thepivotgroup.ca/)

Ketika masuk di dalam ruangan klinik maupun unit layanan terapi okupasi di suatu instansi, Anda akan melihat betapa beragam dan berbedanya ruang terapi okupasi dibandingkan dengan layanan rehabilitasi medik lain.

Bila pada layanan pediatri, anak dan tumbuh kembang, Anda akan melihat betapa berkesan ramai, ceria, penuh dengan mainan, rintangan dan hal menyenangkan hingga rasanya membuat nyaman anak-anak yang mendapat layanan di sana hingga enggan diajak pulang orang tuanya.

Dalam layanan disabilitas fisik, dewasa dan geriatri (lansia) Anda akan diajak melihat ruangan serupa salah satu atau beberapa bagian dalam rumah Anda sendiri, lingkungan sebenarnya hingga ruang lokakarya untuk Anda mendapat layanan rehabilitasi kerja dan pada layanan rehabilitasi kejiwaan Anda akan menyaksikan ruang lokakarya produktif dari para klien gangguan kejiwaan yang akan siap untuk kembali ke dalam masyarakat dan melakukan okupasinya.


Kreativitas & Aura Lingkungan

Mengenakan jersey klub bola di lapangan bola
(Img. https://ot.ecu.edu/)

Melalui sedikit cerita di atas, sejak dari desain dan isi ruangan saja, Anda, pembaca catatan ini entah masyarakat, tenaga kesehatan maupun terapis okupasi, telah dihadirkan dengan sisi kreativitas dari layanan terapi okupasi. Terapis okupasi dan disiplin ilmu terapi okupasi tahu betul dengan bagaimana faktor lingkungan, baik penataan hingga detail fasilitas yang disediakan dapat memberikan pengaruh dalam pelayanan terapi.

Hal tersebut ditemukan dalam Eriksson, Westerberg & Jonsson (2011) bahwa partisipan wanita dengan masalah mental stres dalam risetnya memperoleh dampak relaksasi ketika masuk ke dalam kebun dan merasakan vibes dari kebun masuk ke dalam mereka. Dalam literatur lain (Anaby, et al., 2013) membahas beberapa hal terkait lingkungan (fisik maupun non fisik) dan pengaruhnya pada anak-remaja dengan disabilitas.

Contoh Ruangan Terapi Okupasi (Img. https://news.abs-cbn.com/)

Lingkungan fisik (tersedianya sarana prasarana ramah disabilitas) dan non fisik (dukungan sosial, sistem & regulasi yang berlaku) dapat mendukung partisipasi mereka dalam berokupasi, baik dalam aktivitas keseharian, melakukan peran dan menjalani kehidupan (bekerja, menikah, berkarya, dsb.)

Lebih dari pengatar ini, mari kita telusuri bagaimana pengalaman terapis okupasi dalam menyalurkan kreativitas dalam pelayanan.


Menjadi Kreatif: Kesadaran dan Kewajiban Terapis

Kepala & Kreativitas Kita (Img. images.squarespace-cdn.com)

Terapis okupasi melalui proses pikir yang sadar dalam melakukan tindakan kreatif selama memberikan pelayanan kepada klien. Berikutnya merupakan keterampilan dari terapis dalam menjadi kreatif, yakni perilaku kreatif, berpikir kreatif dan proses kreatif.

Perilaku kreatif merupakan penerapan dari munculnya cara berpikir maupun proses problem-solving yang pada akhirnya menciptakan solusi, media, modalitas maupun program baru yang melibatkan pendekatan kreatif bersama tim (Schmid, 2004).

Terbentuknya perilaku kreatif dapat terwujud oleh keterampilan terapis dalam mengkombinasikan creative thinking dan creative reasoning selama memberikan layanan untuk menyelesaikan kesulitan terapis.

Lebih penting dari 2 poin tersebut, memahami proses dari berperilaku kreatif dalam okupasi manusia menurut Blanche (2007) membedakan dalam 2 bentuk orientasi kreativitas, yakni process-oriented & product-oriented.

Dua orientasi berikut memiliki perbedaan yang kontras antara process-oriented untuk lebih menikmati proses kreasi tanpa memikirkan hasilnya seperti apa sedangkan product-oriented tidak begitu mementingkan proses dan lebih menikmati hasil kreativitas melalui hasil yang didapatkan.


Pengalaman Mengolah Kreativitas

Prakarya sebagai media terapi (Img. aneverydaystory.wordpress.com)

Bila digeneralisasikan dalam pengalaman terapis okupasi, terlebih dalam memberikan pelayanan berbasis okupasi, Estes & Pierce (2012) menceritakan bagaimana terapis okupasi area pediatri perlu ‘memeras otak’ kreatifnya dalam memberikan layanan.

Pernyataan berikut: ‘setiap klien adalah unik’, ‘pelayanan klien harus bersifat individualistik’ dan ‘adanya kesamaan kebutuhan klien bukan berarti layanannya juga sama’, menjadi alasan terapis wajib untuk menjadi kreatif dalam memberikan layanan hingga selama sesi terapi melakukan mix & match aktivitas kepada klien.

Menikmati proses ‘memeras otak’ untuk mencapai tujuan terapi inilah dikatakan process-oriented.

Pengalaman yang berbeda dalam Sriram, Jenkinson & Peters (2020) dalam membantu pengasuh klien demensia selama di rumah menunjukkan product-oriented dengan iPad, smartwatch, telepon modifikasi, jam modifikasi, GPS dan alat otomatis lain yang digunakan telah memberikan kepuasan, meringankan beban pengasuh untuk tetap mudah terlibat okupasi mereka dan membantu pelayanan klien mencapai kemandirian dan partisipasi dalam okupasi selama di rumah hingga meminimalkan beban biaya hidup secara ekonomi.


Kreativitas Membantu Pelayanan Terapi Okupasi yang Efektif

Pelayanan Kesehatan (Img. https://www.theguardian.com/)

Pelayanan terapi okupasi yang sedemikian kreatif dan bervariasi ketika berhadapan dengan klien, baik dilakukan dengan berorientasi kepada impairment-based maupun occupation-based dan di tengah keterbatasan fasilitas maupun tidak, kenyataannya selalu mengharuskan terapis untuk selalu bersikap kreatif melibatkan aktivitas, media maupun modalitas terapi kepada klien.

Dalam review Peruzza & Kinsella (2010) tentang manfaat kegiatan seni kreatif, seperti melukis, berpuisi, drama dan kegiatan seni lainnya sebagai modalitas terapi, menyebutkan adanya beberapa manfaat menurut terapis okupasi terkait hal tersebut, sebagai berikut

Meningkatkan Kontrol Kesadaran Diri

Studi Peruzza & Kinsella (2010) mengutip Lloyd et al. (2007) yang menemukan bahwa partisipan yang mengikuti kegiatan seni kreatif dapat membebaskan ekspresi mereka selepas mungkin untuk disalurkan secara langsung ke dalam seni yang mereka produksi selama sesi.

Maka, melalui keleluasaan tersebut kiranya klien dapat terlatih bagaimana persepsi dan kontrol dirinya terhadap keputusan dan resiko dalam hidup klien, memunculkan kebebasan berekspresi, meredakan emosi negatif dan meningkatkan psikologi positif dari klien.

Membangun Konsep Diri

Kesadaran terhadap diri sendiri dapat terbentuk melalui melepaskan ekspresi mereka, feeling, bahkan gambaran diri mereka ke dalam media seni kreatif. Muaranya adalah timbulnya sikap penerimaan terhadap kondisi dan situasi klien saat ini, meningkatnya rasa percaya diri hingga perasaan berhasil dan perasaan bahwa dirinya berharga.

Memandirikan & Mengembalikan peran sebagai anggota keluarga
(Img. https://www.boisestate.edu/)

Media Bereskpresi

Seni kreatif menjadi media melepaskan diri sendiri dan perasaan yang sedang dirasakan sebebas mungkin dengan diwujudkan dan ditunjukkan melalui karya.

Mengubah Pengalaman Menderita Sakit

Seni kreatif menciptakan warna baru bagi klien yang sedang dalam masa pemulihan sakit, yang mana terkadang dalam masa tersebut perasaan negatif akan muncul dan mengganggu kehidupan fungsional dan partisipasi klien dalam keseharian.

Melalui seni kreatif, klien dapat menyisihkan perasaan negatif dan penderitaannya kepada cara pandang lain yang lebih baik dalam merespon kehidupannya. 

Memperoleh Kesadaran Tujuan Hidup

Masa pengalaman sakit menyempitkan harapan klien terhadap kehidupan yang lebih baik. Terbiasanya menutup harapan dan memilih berfokus dengan penderitaan yang dialami membuat klien menjadi skeptis untuk meyakini perumpamaan ‘hari esok akan lebih baik daripada hari ini dan hari kemarin’ yang dapat membangun emosi positif dalam hidup mereka.

Dengan dilibatkan dalam kegiatan seni kreatif, klien dapat membuka mata, merasakan kepuasan setelah mengekspresikan perasaan mereka, hingga dapat menemukan tujuan hidup baru dan keputusan bahwa hidup mereka tidak hanya akan berlangsung dengan penderitaan.

Membangun Dukungan Sosial

Setelah kegiatan seni kreatif dapat membangun sikap positif, konsep diri dan persepsi tujuan hidup, klien akan yakin untuk mampu berperan dan terlibat dalam partisipasi sosialnya misalnya dengan menginspirasi, mengajak hingga berkontribusi ke dalam lingkungan sosial mereka.

Namun, untuk mencapai dukungan sosial ini diperlukan beberapa aspek seperti adanya penerimaan sosial, ekspektasi lingkungan yang tidak berlebihan, prediksi hal yang tidak diinginkan dan beresiko serta proteksi terhadap diri sendiri.

Teknologi assistive adalah produk dari kreativitas (Img. rvnahealth.org)

Kesimpulan

Melalui 2 pandangan di atas, baik dari sisi terapis maupun peranan yang diperoleh dari modalitas okupasi yang melibatkan kreatifitas terhadap kesehatan, kita dapat sama-sama ketahui bahwa menjadi kreatif dalam pelayanan terapi okupasi merupakan keharusan yang tidak bisa ditolak terlebih ketika dalam memberikan layanan kepada klien.

Dengan menyadari bahwa menjadi kreatif ternyata memberikan pengaruh yang positif, rasanya tidak sia-sia bila kita, utamanya sebagai terapis, untuk selalu melatih dan mengaplikasikan keterampilan berperilaku kreatif.


Referensi

Anaby D, Hand C, Bradley L, DiRezze B, Forhan M, DiGiacomo A, Law M. The effect of the environment on participation of children and youth with disabilities: a scoping review. Disabil Rehabil. 2013 Sep;35(19):1589-98. doi: 10.3109/09638288.2012.748840. Epub 2013 Jan 25. PMID: 23350759.

Blanche, E. I. (2007). The expression of creativity through occupation. Journal of Occupational Science, 14(1), 21–29. https://doi.org/10.1080/14427591.2007.9686580

Eriksson, T., Westerberg, Y., & Jonsson, H. (2011). Experiences of women with stress-related ill health in a therapeutic gardening program. Canadian Journal of Occupational Therapy, 78(5), 273–281. https://doi.org/10.2182/cjot.2011.78.5.2

Estes, J., & Pierce, D. E. (2012). Pediatric therapists’ perspectives on occupation-based practice. Scandinavian Journal of Occupational Therapy, 19(1), 17–25. https://doi.org/10.3109/11038128.2010.547598

Lloyd, C., Wong, S. R., & Petchkovsky, L. (2007). Art and Recovery in Mental Health: A Qualitative Investigation. British Journal of Occupational Therapy, 70(5), 207–214. https://doi.org/10.1177/030802260707000505

Perruzza, N., & Kinsella, E. A. (2010). Creative arts occupations in therapeutic practice: A review of the literature. British Journal of Occupational Therapy, 73(6), 261–268. https://doi.org/10.4276/030802210X12759925468943

Schmid, T. (2004). Meanings of creativity within occupational therapy practice. Australian Occupational Therapy Journal, 51(2), 80–88. https://doi.org/10.1111/j.1440-1630.2004.00434.x

Sriram, V., Jenkinson, C., & Peters, M. (2020). Carers’ experience of using assistive technology for dementia care at home: A qualitative study. BMJ Open, 10(3). https://doi.org/10.1136/bmjopen-2019-034460

Neurodevelopmental Treatment (NDT); Apakah (Masih) Efektif?

Neurodevelopmental Treatment (NDT) (Img. bisamandiri.com)

Neurodevelopmental Treatment (NDT) adalah bentuk layanan rehabilitasi medik yang diberikan oleh profesi kesehatan terkait kepada klien dengan masalah sistem saraf pusat (SSP), seperti cerebral palsy, stroke, traumatic brain injury, pun masalah terkait SSP lainnya. Pendekatan NDT pun menjadi salah satu pendekatan yang populer digunakan terapis di pelayanan rehabilitasi medik untuk memberikan pelayanan kepada klien.

Namun, temuan riset terbaru dikatakan bahwa NDT tidak lagi dianjurkan dalam praktik klinis, kenapa? Mari kita simak pembahasan berikut.


Mengenal Neurodevelopmental Treatment (NDT)

Neurodevelopmental Treatment (NDT) merupakan produk berwujud konsep, teori dan kerangka praktik yang biasa kita kenal sebagai: Metode Bobath, yang dapat diterapkan oleh profesi kesehatan di ranah pediatri – rehabilitasi medik, utamanya oleh fisioterapi maupun terapi okupasi.

Seputar NDT atau metode Bobath berikut, mengutip Vaughan-Graham & Cott (2016) terdapat 3 (tiga) poin kunci dari Bobath, yakni (1) analisis gerak dari tahapan aktivitas, (2) keseimbangan postur tubuh dengan gerakan, dan (3) peran senso-motor dalam kontrol motorik. Ketika diterapkan dalam praktik, metode Bobath berdasar kepada berikut (Graham et al., 2009):

  1. Fasilitasi gerak oleh terapis secara hands-on, sekaligus memberikan input sensori yang dapat membantu meningkatkan kontrol postural.
  2. Latihan gerak untuk memperoleh kualitas pola gerak motorik yang normal; dengan meminimalkan pola gerak tidak normal (atypical). 

Bobath: Perspektif Lama vs Baru

Metode Bobath mengalami perkembangan secara ilmu pengetahuan dan praktis. Berikut di bawah merupakan ulasan mengenai gambaran Bobath metode lama dan metode baru. 

Diterjemahkan dari paparan Dr. Maheshwari Harishchandre (https://www.slideshare.net/Vimscopt/bobath-approaches)

Kajian konten ini membahas pandangan riset terbaru terhadap metode Bobath lama yang ditemukan dalam riset pada ranah pediatri, dengan sampel anak dengan masalah cerebral palsy.


Neurodevelopmental Treatment (NDT) dalam Praktik Terapi Okupasi

Metode Bobath pada Anak (Img. secangkirterapi.com)

Pada konteks layanan terapi okupasi di Indonesia, penggunaan metode NDT pada ranah pediatri rasanya cukup banyak dikenal dan dilakukan. Namun, ketika mencoba menemukan referensi penerapan metode NDT dengan praktik terapi okupasi pada pediatri edisi terbaru beberapa tahun ke belakang, rasanya tidak banyak. Berikut merupakan rangkuman dari beberapa temuan.

Behzadi, Noroozi, Mohamadi (2014) melakukan tindakan kepada sampel cerebral palsy dengan membandingkan antara penggunaan NDT saja (1) dengan NDT dikombinasikan dengan home program terapi okupasi (2). Pelaksanaan pada (1) dilakukan dengan menyesuaikan prinsip Bobath seperti fasilitasi dan inhibisi saja di lahan praktik, sedangkan pada (2) dilakukan Bobath dengan diberikan tambahan dengan program home-based menggunakan pamflet dan kaset tutorial.

Melalui perbandingan berikut diperoleh pada (2) dengan kombinasi NDT dan home-based menunjukkan peningkatan lebih baik.

Riset dengan hasil serupa juga terdapat dalam Russell et al. (2017) dengan menerapkan Combined Therapy Approaches (CAT) pada sampel anak cerebral palsy, kombinasi antara NDT dengan kerangka konsep lain, dengan satu grup kontrol yang diukur secara pre-post menunjukkan pengaruh yang lebih baik poin tingkat kemandirian anak pada post terapi.


Melihat Efektivitas Neurodevelopmental Treatment (NDT) – 5 Tahun Terakhir

Menerapkan Bobath pada Anak (Img. littlestepspt.com)

Melalui kajian riset terkini dengan sajian review sistematik seputar NDT dalam praktik terapi okupasi maupun rehabilitasi medik pada pediatri, sebagai berikut.

Dampak pada Komponen & Fungsi Tubuh Manusia

Melalui kajian Novak & Honan (2019), dikatakan bahwa penerapan NDT (metode lama; secara pasif) pada CP termasuk dalam kelompok tidak efektif dan disarankan tidak dilakukan, dibandingkan dengan bimanual therapy, constraint induced movement therapy (CIMT) dan pendekatan lain. Dalam dimensi melatih fungsional anak, NDT juga tidak tercantum sebagai kerangka praktik di segala kelompok. Penggunaan pendekatan family centered care mapun lainnya lebih disarankan untuk dilakukan.

Dinukil dari Novak & Honan (2019). Informasi warna: Disarankan Sangat Lakukan (Hijau), Boleh Lakukan (Kuning/Oranye W+), Baiknya Hindari (Kuning/Oranye W-), Jangan Lakukan (Merah).

Kajian lain oleh Novak et al. (2020) menyajikan rambu-rambu pendekatan rehabilitasi dan penanganan fungsional pada cerebral palsy dengan hasil sebagai berikut. Ditemukan bahwa pendekatan NDT (melalui kajian literature-literatur) pada beberapa kolom kemampuan anak. dikatakan tidak disarankan hingga dilarang penggunaannya untuk penanganan. 

Dinukil dari Novak et al. (2020). Informasi warna: Disarankan Sangat Lakukan (Hijau), Boleh Lakukan (Kuning/Oranye W+), Baiknya Hindari (Kuning/Oranye W-), Jangan Lakukan (Merah).

Mengapa demikian?

Menyoroti pengaruh NDT pada dimensi motorik dan fungsional dengan merangkum dari Novak & Honan (2019) & Novak et al. (2020), melihat dimensi motorik dan kemampuan fungsional anak cerebral palsy bertujuan untuk memberikan pengalaman bergerak, beraktivitas secara langsung dan terfasilitasi dengan mandiri dapat meningkatkan fungsi kompleks dari neuroplastisitas otak anak. Sebaliknya, ketika menggunakan NDT, SI dan metode lain pada diagram, tidak membelajarkan & memberikan pengalaman aktif kepada anak sehingga tidak mengaktifkan kerja fungsi motorik di otak. 

Penanganan yang bersifat top-down yang diaplikasikan pada anak CP lebih memberikan pengalaman dan hasil yang nyata daripada pendekatan bottom-up dari pendekatan NDT/Bobath & SI (metode lama) (Novak & Honan, 2019)


NDT vs Pendekatan Lainnya

Riset dari te Velde et al. (2022) menelisik seputar efektivitas pendekatan NDT dibandingkan dengan pendekatan berbasis aktivitas (activity-based) dalam beragam dimensi & model penerapan, penggunaannya untuk meningkatkan fungsi motorik pada anak dan bayi dengan CP maupun resiko tinggi CP. 

Bimanual Training & Constraint Induced Movement Therapy (CIMT) (Img. www.cimt.co.uk)

Rangkuman kajian tersebut dikelompokkan menjadi 3 bagian dampak; (1) latihan activity-based lebih diunggulkan, (2) latihan struktur-fungsi tubuh sepadan dengan NDT, dan (3) NDT & berapapun dosis terapi NDT tidak dianjurkan dilakukan.

Mengapa demikian?

  1. Temuan efektivitas activity-based ketika melibatkan anak untuk aktif dan mandiri dalam sesi terapi lebih meningkatkan pencapaian anak (dibandingkan menggunakan NDT yang masih difasilitasi). Keterlibatan lingkungan yang sebenarnya, beragam dan menyenangkan membuat anak lebih banyak belajar.
    • Eliasson et al. (2014) menyebutkan activity based pada bayi resiko tinggi CP melibatkan lingkungan penuh mainan yang sesuai dengan kemampuan motorik anak & berkembang sesuai level kognitif perkembangannya ketika sesi terapi dilakukan, seperti kalung, mainan masak-masakan, mainan halus-kasar, dan sebagainya.
  1. Temuan riset latihan berbasis fungsi-komponen tubuh dibandingkan dengan penarapan NDT, menunjukkan dampak yang sama (meningkatkan fungsi motorik tubuh), akan tetapi tidak banyak ditemukan varian riset lain dan masih ditemukan bias.
  2. Penggunaan pendekatan NDT metode lama dianjurkan untuk tidak digunakan dalam pelayanan kepada bayi dan anak dengan CP maupun resiko tinggi CP. 
    • Hal tersebut disebabkan berdasarkan kajian meta analisis dan review sistematik, ditemukan dampak activity-based lebih baik daripada NDT lama dalam sampel yang memadai & bias relatif rendah, pun kajian yang tersedia tidak cukup memadai dan terpercaya lewat hasil data statistik (te Velde et al., 2022).
  1. Batasi tindakan yang tidak efektif seperti: membantu, menggerakkan dan memposisikan – dengan tujuan menormalisasi gerakan maupun membatasi gerak abnormal, tonus & refleks, melakukan stretching pasif, memberikan input sensori maupun vestibular.
  2. Perbanyak membelajarkan pola gerak aktif, bertahap, berulang dan  bervariasi pada setiap tugas aktivitas, memberikan umpan balik terhadap kemampuan anak, menetapkan tujuan terapi yang sebenarnya dan mengembangkan keterampilan problem-solving anak.

Ulasan-ulasan di atas banyak menyoroti kajian seputar efektivitas NDT lama dibandingkan dengan pendekatan yang bersifat activity-based (seperti CIMT, bimanual training dsb.) pada populasi CP di beragam kondisi dan usia perkembangan. 

Sejelasnya, uji efektivitas tersebut diseleksi berdasarkan metodologi riset, baik secara review sistematik dan/maupun meta analisis, terhadap beragam literatur menyesuaikan pada kata kunci akses literaturnya; misalnya: neurodevelopmental treatment, cerebral palsy

Berlanjut kepada membandingkan signifikansi hasil dari setiap literatur terseleksi hingga menarik kesimpulan: penerapan pendekatan NDT lama dalam praktik menunjukkan dampak tidak lebih baik daripada pendekatan lainnya, utamanya pendekatan yang bersifat activity-based.


Kesimpulan

Penggunaan pendekatan NDT (metode lama) bila dihubungkan dengan tren dan tujuan rehabilitasi kesehatan masa kini yang bersifat partisipatif dan melibatkan kepada lingkungan sebenarnya (perspektif top-down) tidak lagi relevan dan sejalan.

Perlunya kolaborasi, kombinasi, upgrade kepada perspektif NDT metode baru maupun tidak menerapkan NDT dengan mengaplikasikan metode yang evidence-based  lainnya, kiranya dapat memberikan pelayanan yang lebih maksimal, memberikan pengalaman lebih partisipatif dan aktif kepada klien, sejalan ke arah occupation-centered dan client-centered pada layanan terapi okupasi pediatri.

Referensi

Ann-Christin Eliasson, Linda Nordstrand, Linda Ek, Finn Lennartsson, Lena Sjöstrand, Kristina Tedroff, Lena Krumlinde-Sundholm. The effectiveness of Baby-CIMT in infants younger than 12 months with clinical signs of unilateral-cerebral palsy; an explorative study with randomized design. Research in Developmental Disabilities,Volume 72, 2018, 191-201. https://doi.org/10.1016/j.ridd.2017.11.006.

Anna te Velde, Catherine Morgan, Megan Finch-Edmondson, Lynda McNamara, Maria McNamara, Madison Claire Badawy Paton, Emma Stanton, Annabel Webb, Nadia Badawi, Iona Novak; Neurodevelopmental Therapy for Cerebral Palsy: A Meta-analysis. Pediatrics June 2022; 149 (6): e2021055061. 10.1542/peds.2021-055061

Behzadi, Faranak & Noroozi, Hesammedin & Mohamadi, Marzieh. (2014). The Comparison of Neurodevelopmental-Bobath Approach with Occupational Therapy Home Program on Gross Motor Function of Children with Cerebral Palsy. Journal of Rehabilitation sciences and Research. 1. 21-24.

Graham JV, Eustace C, Brock K, Swain E, Irwin-Carruthers S. The Bobath concept in contemporary clinical practice. Top Stroke Rehabil. 2009;16(1):57–68

Novak, I. and Honan, I. (2019), Effectiveness of paediatric occupational therapy for children with disabilities: A systematic review. Aust Occup Ther J, 66: 258-273. https://doi.org/10.1111/1440-1630.12573

Novak, I., Morgan, C., Fahey, M. et al. State of the Evidence Traffic Lights 2019: Systematic Review of Interventions for Preventing and Treating Children with Cerebral Palsy. Curr Neurol Neurosci Rep 20, 3 (2020). https://doi.org/10.1007/s11910-020-1022-z

Russell, Dorothy Charmaine, Scholtz, Christa, Greyling, Petro, Taljaard, Marin, Viljoen, Elmien, & Very, Corné. (2018). A pilot study on high dosage intervention of children with CP using combined therapy approaches. South African Journal of Occupational Therapy48(2), 26-33. https://dx.doi.org/10.17159/2310-3833/2017/vol48n2a5

Vaughan-Graham J, Cott C. Defining a Bobath clinical framework – a modified e-Delphi study. Physiother Theory Pract. 2016;32(8):612–627

Peran Terapi Okupasi pada Peristiwa Bencana Alam

Gambar oleh Angelo Giordano dari Pixabay

Bencana alam merupakan fenomena yang sering terjadi yang terkadang tidak dapat kita prediksi kapan terjadinya. Setiap tahunnya Indonesia mengalami peristiwa alam seperti banjir, gempa bumi, longsor, tsunami hingga gunung meletus dikarenakan Indonesia sendiri berlokasi di Cincin Api Pasifik (wilayah dengan banyak aktivitas seismik). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.205 bencana alam terjadi dari 1 Januari 2021 hingga 30 April 2021 (Liputan 6, 2021).

Tidak hanya mengalami kehilangan harta dan benda, seseorang bahkan dapat mengalami luka fisik seperti luka-luka, patah tulang, Traumatic Brain Injury (TBI)  hingga luka psikis seperti trauma dan depresi pasca bencana alam yang dapat berimplikasi pada kehidupan keseharian seseorang seperti pada aktivitas sehari-hari, pekerjaaan hingga sosial (AOTA, 2008).

Gambar oleh Rafael Urdaneta Rojas dari Pixabay

Apakah Peran Terapi Okupasi pada Bencana Alam?

Dalam peristiwa bencana alam Terapis Okupasi harus dilibatkan dalam semua tahap penanggulangan bencana baik di tingkat lokal maupun nasional. Keterlibatan ini dimulai dari pasca bencana hingga rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang, termasuk perencanaan dan persiapan (WFOT, 2014). Terapis okupasi berperan dalam tiga tahap situasi emergensi pada peristiwa bencana alam yaitu kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan.

Mitigasi bencana (Kesiapsiagaan)

Peristiwa bencana alam terkadang tidak dapat terprediksi kapan terjadinya. Maka dari itu perencanaan yang matang sangat diperlukan. Seorang terapis okupasi dalam disaster preparation memiliki peran  mengembangkan pengetahuan dan kapasitas pada level komunitas local, nasional hingga internasional untuk mengantisipasi dan merespon secara tepat terhadap bahaya atau resiko dari peristiwa bencana alam dan dampak yang menyertai, seperti dampak sosial, politik, ekonomi dan lingkungan serta berfokus terhadap ancaman yang akan dihadapi di waktu dekat maupun di masa mendatang (Rushford & Thomas, 2015).

Dalam praktiknya seorang terapis okupasi harus bekerjasama dengan stakeholder atau pemegang kebijakan di daerah tersebut untuk menjangkau seluruh masyarakat. Salah satu peran kesiapsiagaan yang dapat dilakukan terapis okupasi adalah menggunakan keahlian di bidang-bidang seperti merancang tempat penampungan berkebutuhan khusus yang aksesibel seperti mendesain ramp untuk pengguna kursi roda, mendesain kamar mandi darurat yang aksesibel dan membentuk staf pelatihan dan sukarelawan dalam membantu penyandang disabilitas selama masa krisis (AOTA, 2008).

Edukasi Kebencanaan sebagai Bentuk Mitigasi (Img. lipi.go.id)

Selain pada tingkat kelompok masyarakat, kesiapsiagaan bencana juga dapat menjadi intervensi okupasi terapi pada tingkat keluarga atau individu. Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang rentan, seperti difabel atau anak berkebutuhan khusus, dapat mempersiapkan kegawatdaruratan melalui peningkatan pemahaman individu difabel dan anak akan terjadinya bencana (seperti misalnya banjir) melalui storytelling maupun roleplaying.

Supply kits berupa medikasi, alat transportasi, alat kesehatan seperti tabung oksigen, makanan yang sesuai diet individu dapat disiapkan dalam bentuk cadangan dengan memperhatikan kadaluarsa.

Respon Bencana

Pada tahapan ini adalah ketika peristiwa bencana alam terjadi. Seorang terapis okupasi ikut serta dalam memberikan layanan darurat dan bantuan publik, selama atau segera setelah kejadian peristiwa bencana alam yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa seseorang, mengurangi dampak bencana, memastikan keselamatan masyarakat dan berfokus pada kebutuhan jangka pendek dan mendesak.

Merespon Bencana Alam (Img. ifaw.org)

Dalam praktiknya, terapis okupasi dapat berperan dalam mengelola tempat penampungan masyarakat berkebutuhan khusus, memfasilitasi support group untuk mengurangi kecemasan pengungsi, dan memberikan layanan dukungan kesehatan mental kepada korban dan personel militer. Selain itu juga terapis okupasi dapat membantu tenaga medis lainnya dalam mengidentifikasi korban luka-luka atau hilang (Rushford & Thomas (2015); AOTA (2008)).


Pemulihan Pasca Bencana

Pemulihan Bencana dari Segi Infrastruktur (Img. kompas.com)

Setelah peristiwa bencana alam terjadi, proses pemulihan adalah tahapan yang membutuhkan waktu lama. Dalam tahapan ini terapis okupasi berkontribusi dalam upaya pemulihan (recovery), melakukan perbaikan (rehabilitation) dan pembangunan kembali (reconstruction) terhadap kegiatan dan rutinitas masyarakat yang terganggu.

Korban bencana perlu mengembangkan keterampilan dirinya untuk menangani dampak dari pengalaman yang mereka lalui. Dengan melibatkan penyintas bencana dalam aktivitas bermakna, penyintas bencana dapat merestrukturisasi rutinitas mereka untuk mengatasi stres dan rasa cemas (AOTA, 2008).

Rumah Tahan Gempa (Img. rumah.com)

Dalam seminar internasional tentang Occupational Therapy in Post-Disaster Relief (2008) di Jerman, memaparkan bahwa dalam praktiknya terapis okupasi dapat melakukan asesmen situasional kepada masyarakat yang terdampak bencana alam dengan cara melihat kebutuhan dan kapasitas masyarakat secara langsung, kemudian merencanakan projek ke depan secara objektif dan melakukan evaluasi di kemudian hari. Kemudian terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan oleh terapis okupasi dalam situasi post-bencana alam yaitu:

Menggunakan Pendekatan Bio-Psycho-Social

Dalam implementasinya terapis okupasi berfokus terhadap sumber daya yang ada, penguatan kapasitas diri masyarakat, menyediakan dukungan dan menciptakan keserasian dengan masyarakat. Kemudian terdapat tiga hal yang dapat dievaluasi dan dilakukan tindakan intervensi oleh terapis okupasi dengan pendekatan ini, yaitu:

  1. Body function (seperti melakukan rehabilitasi tangan, melakukan pelatihan fungsional klien untuk memaksimalkan ADL),
  2. Activity (meliputi pelatihan vokasional, memberikan permainan untuk anak-anak yang terdampak sebagai aktivitas yang bermakna),
  3. Partisipasi (seperti melakukan terapi kelompok, aktivitas olahraga dan pemanfaat waktu luang).
Trauma Healing Pasca Bencana (Img. jabar.tribunnews.com/)

The Kawa Model (Pendekatan Terapis Okupasi Secara Komprehensif)

Kawa, berarti sungai dalam Bahasa jepang yaitu model yang dikembangkan oleh terapis okupasi asal Jepang Michael K. Iwama, merupakan model terbaru dengan perspektif orang timur dan menggunakan sungai sebagai metafora jalur kehidupan dan occupation yang mana dapat diimplementasikan pada situasi bencana alam.

Kawa Model (Img Google.com)

Air yang berarti adalah energi kehidupan, pinggiran sungai dan dasaran sungai yang berarti kehidupan sosial dan lingkungan fisik klien, batu yang berarti masalah dan tantangan kehidupan, kayu yang mengapung berarti aset dan kewajiban personal, ruang (space) aktivitas keseharian dan partisipasi.

Kawa model sangat berguna dalam promosi pendekatan secara client-centered, membuat prioritas dan mengevaluasi hasil intervensi, interprofessional teamwork dan mendukung klien dalam proses adaptasinya setelah peristiwa bencana alam yang dialami.

Dalam pelaksanaannya terapis okupasi dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dengan cara menggunakan assistive devices, menciptakan lingkungan yang aksesibel dan sikap positif terhadap konteks sosial dan personal .


Kesimpulan 

Tidak ada satupun negara didunia yang terhindar dari bencana alam begitu pula Indonesia. Terapis okupasi menjadi salah satu tenaga kesehatan yang diperhitungkan untuk terlibat dalam peristiwa bencana alam baik dalam mitigasi bencana hingga post-disaster.

Dalam pelaksanaanya terapis okupasi harus bekerja dengan tenaga profesi lain, stakeholder dan masyarakat. Menggunakan pendekatan yang berfokus terhadap komunitas dan masyarakat, diharapkan terapis okupasi dapat membantu masyarakat menjalankan kehidupan secara sepenuhnya setelah peristiwa buruk yang dilalui.

Referensi

International Seminar (2008). Occupational therapy in post-disaster relief. Rheinsberg, Germany.

Liputan6.com News (2021). BNPB: 1.205 Bencana Alam Terjadi Sejak 1 Januari hingga 30 April 2021. https://www.liputan6.com/news/read/4547346/bnpb-1205-bencana-alam-terjadi-sejak-1-januari-hingga-30-april-2021

Rushford, N., & Thomas, K. (Eds.). (2015). Disaster and development: An occupational perspective. Elsevier Health Sciences.

World Federation of Occupational Therapists. (2014). Occupational Therapy in Disaster Preparedness and Response (DP&R). https://www.wfot.org/resources/occupational-therapy-in-disaster-preparedness-and-response-dp-r 

Yamkovenko, S., 2008. Occupational Therapy’s Role in Disaster Relief. [online] Aota.org. Available at: <https://www.aota.org/About-Occupational Therapy/Professionals/MH/Articles/Disaster-Relief.aspx> [Accessed 17 June 2022].

Instagram